Stories and Sh*t

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Thursday, June 4, 2020

Pergi...



Aku pernah mengendarai bus sebelumnya. Tidak begitu lama ini, mungkin tiga tahun lalu. Tapi semua terasa berbeda. Sangat berbeda. Bukan… bukan tempat duduk dan tipikal supir yang ugal-ugalan. Bukan juga penumpang yang kebanyakan tidur dan sebagian memegang kantong plastik hitam berisi –yang sebelumnya disebut- makanan yang seharusnya sudah di cerna perut mereka. Lebih ke dalam. Lebih kepada apa yang aku rasakan. Sangat berbeda, dan asing.

Sebagai seorang pemuda berusia 23 tahun yang baru saja rampung kuliah aku merasa sangat berbahagia. Tiga tahun lalu duduk di posisi yang nyaris sama seperti sekarang. Menaiki bus besar antar pulau. Menyebrang dari andalas menuju salah satu pulau terpadat di dunia. Mencari sesuatu ketidakpastian sebagai peluang besar. Memasuki hiruk-pikuk ibu kota.

Waktu itu semangat mudaku bergejolak. Aku ingin tahu banyak apa yang terjadi disana. Aku tak sabar menunggu akan menjadi apa aku nanti. Apa yang aku kerjakan. Bukan perkerjaan, maksudku kisah apa yang menantiku. Apakah aku akan mendapat tetangga galak? Ibu kos yang akan selalu menagih uang sebelum jatuh tempo? Bertemu wanita cantik di kedai kopi? Terlilit hutang karna tidak kian mendapat pekerjaan? Lihat. Bahkan skema terlilit hutangpun membuat aku menceritakannya dengan antusias. Semua terlihat bagaikan petualangan di dunia baru.

Tidak kali ini. Kali ini aku tahu apa yang menungguku di sana. Aku tahu apa yang harus aku kerjakan setiap hari. Aku tahu siapa tetanggaku dan aku tidak pernah sekalipun memiliki takdir yang bersinggungan dengan seorang gadis cantik di sebuah kedai kopi. Aku tahu.

Bukan kesedihan yang aku rasakan. Aku sendiri bahkan sulit mendeskripsikannya. Mungkin sebuah kekosongan. Dimana aku sudah mencapai batas seperti seorang robot yang berjalan tanpa arah. Tidak hidup dan tidak mati. Atau mungkin aku hanya rindu pada ibuku. Rindu masakannya. Rindu omelannya. Rindu suaranya yang selalu menaruh rasa khawatir walau dia tau, aku lebih mampu hidup sendiri dari pada dirinya.

Juga mungkin termasuk rasa khawatir. Khawatir bahwa ini akan berlangsung selamanya. Sebuah perjalanan tanpa rasa. Terjerumus pada rutinitas yang sama hingga tua dan termakan usia. Khawatir tentang betapa orang lain sudah memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Kawin-cerai bahkan kawin lagi. ada yang telah hijrah dan berserah diri, setelah melalui curam sulit dan liku kehidupan yang membuat hati mereka luluh pada Tuhan. Ada yang makin hari makin menjadi. Dari masuk jeruji semalam dua malam kini jadi buronan tetap karna bermacam tindakan kriminal garis keras. Dan aku masih disini. Melihat keluar jendela dengan tatapan kosong. Tiada apapun.

Kini di usiaku yang ke 26, aku kembali menapaki jalan yang sama tiga tahun lalu dengan perasaan yang berbeda. Menuju ketiadaan, menuju tawa palsu, menuju karir kosong, meuju ruang hampa. Apa baiknya aku… mati saja?


Share:

Tuesday, November 26, 2019

The Log

EPISODE 1


Aku berdiri di ujung tebing. Mencari ujung dunia di balik cakrawala. Melihat di kejauhan tempat mentari mulai terbenam. Di bawah tebing sudah mulai dirayapi gelap. Perlahan namun pasti gelap itu merayap dan menggapai ke arahku juga. Disini, di atas tebing.
Share:

Sunday, February 24, 2019

MEI



MEI

Jarak antara kota Palembang dan Jambi adalah 275 km. Namun itu hanya antar perbatasannya saja. Untuk mencapai tujuan masing-masing tempat di dalam kota, setidaknya kita harus menempuh 290 km. Ya, 290 km.

Jika kita melaju dengan kendaraan berkecepatan rata-rata 60 km/ jam, kita setidaknya akan sampai dalam waktu 4,83 jam. Oke bulatkan saja 5 jam. Jika mengambil waktu istirahat sekiranya 1 jam, maka kita akan sampai dalam waktu 6 jam. Belum lagi hal lain.

Hal lain? Ya, hal lain. Seperti jalan yang rusak. Saat ini, jalan rusak pada rute lintas sumatera Palembang-Jambi mungkin sudah mencapai puncaknya. Membuat pengendara harus senantiasa berhati-hati karna nyawa taruhannya. Mau tidak mau, kecepatan rata-rata harus berkurang karena terkadang… bukan, bukan terkadang, namun sering kali kita memelankan laju kendaraan secara tiba-tiba karna lubang besar yang mengerikan. Belum lagi masalah lanjutan yang mengikuti jalan rusak ini. Macet, juga kecelakaan lalu lintas. Oke… kita minimalkan saja, anggaplah bertambah 2 jam karena semerawutnya masalah jalan rusak ini. Kini, waktu tempuh menjadi 8 jam.

Apakah ada hal lain lagi? ya… cuaca. Terkadang cerah memang… namun kasusnya dalam cerita ini begitu berbeda. Lebih dari 200 km harus ditempuh dengan hujan lebat, gemuruh, angin, dan petir menyambar. Jarak pandang berkurang… terkadang hanya 10 meter ke depan walau sudah menggunakan lampu tembak. Jalan yang tergenangpun membuat sulit menerka dimana letak lubang besar itu? sesekali roda harus tergoyah sedikit… termasuk kedalam lubang. kini dengan sangat terpaksa harus memelankan laju kendaraan lagi lebih dari sebelumnya, begitu pelan hingga tak sampai 40 km/ jam. Sepanjang perjalanan hanya Tuhan dan kata-kata baik yang kita ingat. Waktu tempuh? Sudah tak tau lagi. tidak usah dihitung… yang penting sampai tujuan dengan selamat, nanti dulu yang lain-lain.

Lalu, ada apa dengan Mei? Yang menjadi judul pada tulisan satu ini. Yang mengaku bahwa dirinya adalah sebuah “cerpen romansa”. Ya… ini adalah cerpen romansa, jika kau bisa melihat isinya. Jika tidak, ya sudahlah… biar aku terangkan saja.

Begini, ini adalah Februari, sudah di penghujungnya. Dan ini, adalah cerita tentangnya. Tentang dia yang bergerak menuju Mei. Mei… adalah tujuannya. Jauh memang, ada jarak antara mereka. Bukan hanya jarak karena bumi ini memiliki batasannya dalam satuan matematis, namun juga jarak-jarak lainnya.

Ada juga waktu yang mengekang untuk sampai dengan harus, dan benar-benar harus… tidak dapat dipungkiri, dihindari, atau dikecualikan, harus melewati Maret dan April. Bukan main… bukan satu atau dua, tapi 61 hari. Dengan waktu dalam hitungan jam yang bisa kau hitung sendiri. Kau pikir itu singkat? Sebentar? Maka kau belum mengerti romansa. Karena dalam cerita tentang cinta, satu detik… bisa selamanya.

Ada juga rintangan diantaranya, diantara jarak dan waktu… ada jalan berlobang, ada macet yang menghadang dan kecelakaan yang semoga saja bukan kita korbannya. Belum lagi panas atau hujan yang dua-duanya bisa sama-sama menorehkan keterlambatan, dan penundaan. Membuat kita yang lambat terkadang menyerah untuk bertanding. Ambil jalan pintas saja… naik pesawat kan bisa? Mahal… dan tanpa perjuangan. Hanya mengadu pada nasib, jika di ridhoi Tuhan maka sampailah. Jika tidak, maka sampai juga, tapi ke alam baka. Dan tidak, itu tidak akan menyelesaikan masalah… karna hanya memangkas jarak, bukan waktu. Hanya jarak bentuk fisik pula, bukan jarak-jarak lainnya yang mungkin lebih penting.

Apalah daya Februari, yang bahkan tak pernah kenal hari ke 30. Apa daya?

Namun begitu, seberapapun jarak yang harus ditempuh… Seberapapun lama waktu yang dibutuhkan… dan seberat apapun rintangan yang ada diantara keduanya. Toh… pada akhirnya, Februari akan sampai pada Mei juga.

Share:

Thursday, April 16, 2015

a story about distance...

 If someone means everything... distance means nothing. Cih...

Hari itu... adalah suatu hari yang indah. Dimana kita mulai berfikir bagaimana pertemuan kita mungkin memang sudah menjadi takdir. Kamu... adalah seorang yang datang dari seberang nun jauh disana. Berada ditempat kecil sempit yang luar biasa ini, duduk disampingku. Bersama kita malu-malu, mengakui apa yang selama ini kita rasakan, tentang kita.

Share:

Thursday, August 28, 2014

senandung dua insan


di sini, di bawah taburan bintang dan langit yang meluap-luapkan keagungan-Nya. Aku terduduk... Termenung menyadari betapa kecilnya diri ini. Siapa aku ini. Merasa rendah diantara gunung-gunung perasaan yang kini kian menjulang tinggi. Menjulang tinggi padanya yang saat ini duduk disampingku memberikan senyum indahnya, entah dia tau atau tidak betapa aku nyaman disampingnya. Betapa aku ingin selalu bersamanya.

Jika saja, dia tau sesering apa aku mencuri waktu untuk sedikit merasakan hangat hembusan nafasnya. Memandangnya sedikit lebih lama, binar matanya bulat merona. Membuatku masuk dan masuk lebih dalam kealam bawah sadarku. Jauh.. Jauh kedalam. Oh... betapa aku memaksakan lidah ini meng-kaku. Menahan -aku menyukaimu- untuk lebih lama lagi, lagi, dan lagi.

Share:

Wednesday, May 8, 2013

dia, dan hujan dibalik jendela


                                                
pict from here
Pagi itu… yang Nampak seperti pagi-pagi biasanya, saya memulai semua kegiatan yang tidak menyenangkan, juga seperti biasanya. Tapi… satu pandangan, mengubah segalanya.
Untuk yang pertama kalinya saya melihat dia, seorang gadis berkerudung yang selalu menoleh kearah jendela. Entah sudah berapa lama saya menjadi bagian dari kelas ini, saya tak pernah menyadari dia ada. Bagai melewatkan sebuah pulau yang di penuhi harta karun, gajah di pelupuk mata tak tampak.
            Nama saya Rio, saya seorang mahasiswa malas dari sebuah universitas negri di Jawa barat. Saya berada di jurusan teknik mesin, menjadi bagian dari himpunan mahasiswa teknik, dan saya membenci semua ini. Sampai saat ini tiba…
            Saya mendekat dengan penuh percaya dirinya dan memperhatikan ia dari dekat. Dia terus menoleh kearah jendela, bibirnya tak mengekspresikan senyum, tapi matanya sungguh terlihat bahagia. Memperhatikan cuaca luar yang tampaknya mulai rintik.
            Dia tiba-tiba menoleh dan menunjukan senyum, membuat saya salah tingkah. Beberapa saat kemudian dia bahkan menyapa dengan mengatakan
Share:

Tuesday, February 19, 2013

Saya, Dia, dan waktu yang tidak mungkin


              
            Percaya atau tidak, saya adalah seorang yang otaknya udah membagi part antara dunia nyata dan dunia khayalan. Seolah dunia khayalan itu adalah dunia nyata yang lain. Semua hal yang saya tulis di blog ini tentunya hasil dari ‘dunia nyata kedua’ saya.
            Setiap hari saat senggang, akan tidur, ataupun bangun tidur, saya selalu memiliki dunia yang berisikan kisah-kisah menyenangkan yang saya buat sendiri. imaginative. Kadang… saya tak akan memulai kegiatan apapun di dunia nyata hanya untuk memikirkan kira-kira ending apa yang bagus untuk kisah di ‘dunia nyata ke dua’ saya. Over imaginative.
            Akhir-akhir ini, saya kesulitan melakukan kegiatan-kegian di dunia nyata, ini semua terjadi karena ada satu impossible story yang selalu kepikiran bahkan saat waktu yang saya miliki nggak senggang. Dan kisah ini… selalu tentang saya, dia, dan waktu yang tidak mungkin.
Share:

Friday, February 15, 2013

memori, waktu itu...

jangan lupa baca artikel d'cupuz yang baru saja diperbarui.

            Hey dude, what’s up? Gaul kan :/. Yeah..
            Rasanya udah bertahun-tahun saya nggak ngepost di blog ini. Well.. I know no body miss me but.. I’ll keep writing babeh.. kali ini saya akan bercerita tentang orang-orang yang pernah jadi bagian dari masa lalu saya, sebagian dari mereka sebenarnya masih jadi bagian dari hari-hari saya. Ehm, cerita ini bakal panjang.. jadi bakalan terus berlanjut. Sebelumnya, saya meminta maaf kalau ada kesalahan cerita, semua itu disengaja. Kalau nggak suka, you can write me in your own way too. So here they are..
1. dear my best friend Aziz Imam Saputra
         
Share:

Thursday, January 3, 2013

road to 2013 ~ another silly story


Karena aku bukan seorang dokter ataupun detektif. Aku tak dapat mendiagnosa apa lagi mengira-ngira. Jadi lakukan apa yang ingin kau lakukan, dan aku hanya akan memperhatikan. (sebuah ungkapan mini penuh arti, yang tak akan pernah diceritakan sepanjang taun ini).

Well, nggak pernah saya sangka kesialan terulang lagi pada pergantian taun selanjutnya. Yahh.. taun ini. Dan ini bukan cerita fiktif. Sama halnya seperti road to 2012 dan road to2012 part 2, ini kisah nyata. Nggaaaak nggak senyata itu, masih ditaburi sedikit bumbu hiperbola.
Kesialan bermula dari rencana taun baru yang lagi-lagi bakal kami abisin buat ngisi waktu di kota metropolitan Palembang. Waktu itu…. Yang bikin rencana sih saya dan my beloved fuckin’ fat 100kg friend bul-bul (@harianto94). Dan itu kami lakukan atas dasar kesadaran bahwa kami sama-sama bokek. Sorry bung, ini bukan cuma akhir bulan. Ini akhir tahun!
Nggak kehabisan akal kamipun berencana make duitnya bank dunia dulu buat biaya mejeng selama kami tinggal di Palembang nanti. Buat yang belum tau, saat ini bank dunia di hidup saya itu si arab mesum (@irwinnast). Yeaaa.. here we come, Palembang city!
Share:

Sunday, December 16, 2012

road to 2013

nggak terasa udah setaun, waktu berjalan amat cepat. perasaan baru kemaren saya nulis road to 2012, sekarang udah road to 2013 aja. hallo, saya saa masih tetap bocup. setahun ini terisi kegagalan dan kekosongan. cerita masih dipenuhi kisah sekitar pop ice mangga.

16-12-2012, saya berfikir apa yang akan saya tulis, belum ada kejadian menarik akhir-akhir ini. sejujurnya, saya memang sedang dalam keadaan yang tidak menarik setahun penuh ini.

ganti tahun harusnya ganti semangat, ganti masalah dan ganti cara menyelesaikannya. ganti mental, ganti jiwa, ganti semua menjadi sesuatu yang lebih baru dan lebih segar.. yah, dengan kata lain, lebih baik.

saya mengingat-ingat kejadian kejadian yang pernah saya alami. tentu saja, akhir tahun juga menjadi tempat untuk memutar balik waktu dan mengingat kejadian yang pernah terjadi. karena dalam beberapa waktu, massa yang baru akan datang!

waktu itu sore hari disaat saya beberapa tahun lebih muda.saya berjalan bersama seorang yang dua tahun lebih tua, laki-laki, seorang kakak, seorang teman. tepat dihadapan kami berjalan dua orang perempuan yang sedikit lebih muda, dengan wajah yang sama-sama cantik, satu putih, satu sawo matang. mereka mengenakan celana pendek.

teman saya ini, penilai yang kurang baik.. tapi kali ini dia benar, dia berkata sembari melirik salah satu gadis. "manis ya, tapi item". saya cuma senyum dan juga ikut memperhatikan. dia mengenakan celana yang terlalu pendek, sedikit tidak suka. kemudian dia menoleh.

saya sangat ingat saat dimana saya berkata dalam hati, "jangan! jangan perhatikan aku!'' tentu saja disusul dengan gerakan yang biasa dilakukan untuk menunjukkan 'saya tidak apa-apa, saya memiliki kegiatan sendiri, dan saya tidak memperhatikan kamu'. dengan kata lain.. menggaruk-garuk kepala.

sebutir kenangan menuju 2013 yang tidak akan kita ketahui. ingatan paling awal tentang dia, pop ice mangga.
Share:

Sunday, October 7, 2012

CARI PACAR edisi Irwinsyah


*Ini merupakan cerita fiktif dan rekayasa.


Kemarau masih berlangsung walau waktu terus berlalu. Dan tidak terasa sabtu malam pun datang lagi, tidak terasa? Tentu saja sangat terasa bagi kalian yang selalu kesepian tiap malamnya. Yah.. tiap malamnya. Kalian? Ya, tentu saja kalian.

Seperti malam-malam yang lain, malam inipun terasa membosankan buat saya. Yah, buat kita yang nggak punya pasangan tepatnya. Karena bosen ndengerin setiap perkataan temen-temen yang selalu terasa bagai ejekan, akhirnya saya putusin untuk mulai mencari pacar. Nah, karena merasa belum berpengalaman. Saya coba ngambil kursus singkat, sama beberapa temen saya.

Share:

Friday, September 7, 2012

sentilan pagi pop ice mangga

Tidak ada yang lebih menyakitkan dari sebuah kegagalan. Hal yang mungkin pernah dirasakan semua orang. Entah kita sadari atau tidak, kita akui atau tidak, kegagalan adalah hal yang sangat menyakitkan. kita mulai akan berfikir apa gunanya kita hidup dan bertanya-tanya, apa yang kita inginkan, apa yang kita lakukuan apa yang kita fikirkan. Ini gila! namun dari semua kesakitan itu, gagal diantara orang-orang yang berhasil adalah yang tersakit dari semuanya. semuanya...

apapun yang kita rasakan adalah apa yang kita fikirkan. Beberapa orang masih mampu mengambil sebuah kekuatan didalamnya. yah... kau tau, terkadang kita harus sedikit turun untuk mencapai lompatan yang lebih tinggi. pagi ini, saya berfikir akan melompat.

bagaikan akhir dan dari sebuah cerita, inilah saya saat ini. mencoba kembali merajut kisah yang baru dimana, dengan masih menyisipkan pop ice mangga didalamnya. hey.. pop ice mangga. bukannya keras kepala, hanya saja saya tidak mungkin menyerah sebelum dia mengalahkan saya untuk membuang dirinya dari alur cerita. pop ice mangga.
Share:

Saturday, February 18, 2012

menulis sebuah kebahagiaan



seperti hari biasa saya kembali lagi ke gedung ini. kali ini bukan untuk kuliah atau belajar apapun, hanya menemui seseorang. ya... sese'orang'. orang ini menarik dan sudah sering saya masukan kedalam cerita-cerita sebelumnya. manis dan enak dilihat. mungkin dia selalu merawat kulit dengan mandi susu, coklat atau kuah kari ayam.

seperti dugaan saya, layaknya sebuah hembusan kentut saya bagai melayang-layang ketika saya melihat gadis ini. ia tersenyum dan menyodorkan tangannya sambil menanyakan kabar. ya ampun, saya fikir pasti ada hujan saat dia lahir. kenapa? karena surga menangis setelah kehilanga satu bidadarinya.percakapanpun dimulai. jrengjrengjreng...

"aku rasa kamu bukan manusia deh.." kata saya..
"kok bisa?" tanyanya heran.
"iya, karena dimata aku kamu itu kayak bidadari yang jatuh dari langit"
"ah kamu bisa aja.." katanya malu-malu.
"iya aku emang bisa, tapi.." kata saya dengan nada menurun.
"tapi kenapa?" tanyanya lagi.
"tapi aku nggak akan bisa apa-apa tanpa kamu." dengan senyum lebar..
"haha.. gombal ah" katanya sambil mencubit lengan saya.assssiiikkkk..
"hmm.. emang ya, dimata orang yang kita sukai, terkadang kejujuran itu disebut gombal." saya mulai menatap jerawatnya. eh.. maksud saya menatap matanya.
dia agak terdiam sebelum melanjutkan. "apa kamu bener-bener suka sama aku?" katanya.
"tidak, ini adalah sebuah kesalahan. tapi aku menyukai kesalahan ini." saya mulai ngupil, eh salah lagi, maksudnya saya mulai memegang jemarinya.
"apa yang kamu suka dari aku?" katanya lagi.
"senyummu, maka berikan senyummu itu untukku." kata saya lagi.
"mana bisa begitu." dia menjawab sambil jidatnya mengkerut.
"kalau begitu berikan semuanya. karna pada akhirnya aku ingin memilikimu seutuhnya.aku mencintaumi" saya berbicara dengan mantap!

semuanya hening diiringi musik piano yang entah dari mana datangnya. saya belum bisa menebak apa yang akan dia katakan tapi dia mulai tersenyum. dan tiba-tiba jatuhlah bunga-bunga dari langit. inikah rasanya jatuh cinta? namun bunga-bunga terus berjatuhan dan menyebabkan saya curiga.jangan-jangan mimpi lagi nih.. ahh entahlah. semua ini memang sulit ditebak.saya nikmati saja.

terlepas dari mimpi ataupun kenyataan, rasa bahagia yang saya rasakan adalah benar, dan saya masih merasakannya hingga sekarang. apapun itu yang terungkap biarlah terungkap. saya tuliskan hati yang bahagia ini dalam sebuah cerita. saya, menulis sebuah kebahagiaan.
Share:

Tuesday, January 3, 2012

Road to 2012 part 2


Hari terakhir tahun ini pengen muas muasin diri buat berekspresi. Mulai dari ngeden nyanyi rock di karaokean, sanpe ngeden di wc.

Kami pulang kerumah dengan wajah yang lesu dan baju yang lumayan lembab. Tambah murung lagi liat air di kost sebelumnya ternyata belum terisi juga. Setelah dicek ternyata ibu kost lagi nggak bersarang dirumah. Pantesan aernya nggak nyala-nyala.

Dengan tampang kusut saya mengambil inisiatip untuk membeli tisu. Serbu! Abis sekali pake tanpa bisa membersihkan apapun kecuali belek. Bingung mau kemana hari ini dengan tampang yang begini? Bingung serba bingung dalam suasana hampir taun baru. Karna bingung sangat, kami berlima mutusin untuk mampir kerumah temen yang nagadain acara selamatan, slamatan karna udah masuk IPDN.

Sesampainya disana tanpa membawa urat malu langsung nyerbu makanan. Dapet makan gratis, plus info gratis. Ternyata eh ternyata, mahasiswa IPDN itu nggak boleh emana-kemana kalo nggak make baju yang punya inisial IPDN. Kalo jalan-jalan pake kaos, berarti harus pake training. Kocak abis. Satu hal lagi yang baru saya tau dan bikin ketawa sampe hampir gila. Mahasiswa IPDN itu kalo photo nggak boleh senyum.


 Nah lo, saya ketawa sepuas puasnya waktu ngajakin dia photo.

Kami-kami emang calon orang sukses, ada yang masuk STAN Jakarta, STAN Palembang, FASILKOM dan Hukum UNSRI, UGM, IPDN, dan saya.... plis jangan ketawa, Pertanian UNSRI. Dengan bangga gubernur mahasiswa kami menyatakan bahwa pertanian itu adalah kebutuhan kedua setelah bernafas. Jadi kita lebih hebat dari mahasiswa kedokteran. *nyengir dikit.

Menjelang sore kami dan kakaknya tuh temen saya yang masuk IPDN, jalan-jalan buat karaokean. Temen saya itu sengaja nggak ikut karna ternyata mahasiswa IPDN juga nggak boleh ke tempat karaoke. Besar amat perjuangan, saya doain sukses bener dah. Tapi memang sial menanti kami, parkir mobil macet abis. Nunggu buat markir aja sejam. Saat ditempat karaoke salah satu mike rusak! Tempat tidak nyaman dan WTF, Rp. 115.000,- di siang hari!

Menjelang taun baru kami nggak tau mau pergi kemana. Mondar mandir sana sini belum bandi, lontang lantung belima ditengah jalan dimalam hari sambil photo-photo dibawah jembatan layang udah kayak boyband.

Boyband lagi ngemis... bau amis muka dekil belum mandi. Krisiss abiss.

Tersiksa batin, akhirnya kami memutuskan kembali kerumah temen kami yang masuk IPDN tadi. Dan disini drama mulai terjadi, begini ceritanya....

Saya, dan Imam salah seorang teman kami berencana ngambil duit di ATM sekalian beli cemilan nungguin malem pergantian tahun. Kami berangkat pake motor temen saya yang lain yang bernama pascal. Sesudah ngambil duit, si Imam ngajakin makan dulu. Yaudah saya turutin ikutan makan juga sama dia.

Sesaat setelah makanan dipesan, Pascal menelfon Imam meminta motornya kembali karna ternyata orang tuanya datang ke kost. Dengan sangat terpaksa saya merelakan Imam meninggalkan saya sendiri yang sedang menunggu pesanan. Sejam berlalu dan waktu menunjukkan pukul 22.30. saya masih bengong nungguin si Imam. Sendiri.

Beberapa menit kemudian Imam pun datang dengan cahaya tapi nggak pake sayap dipunggung. Ternyata eh ternyata si Pascal udah terlanjur pergi tanpa motor tersebut, karna udah kelamaan ditungguin sama ortunya. Tapi dia tetep minta jemput. Bonceng tiga asoy geboy ditengah kota. Marilahh rela aja Cuma malem ini.

Sesampainya dikost Pascal ternyata kosong dan dikunci. Badan yang capek ini mulai lunglai tapi masih deh saya kuat-kuatin buat liat sms di hp. Dan ternyata ommmeGod. Ini sms dari Pascal yang isinya, pemberitahuan bahwa dia ketemuan sama ortunya di PakJo, bukan plaju. Hampir merah ini muka berlapis antara capek, debu, dan keputusasaan.

Pukul 23.30 kami sampai di tempat dimana Pascal berdiri dengan senyum polosnya. Dimana saya duduk diboncengan motor dengan muka super HOT (nggak cool ). Akhirnya kami beertiga menaiki motor yang mati pajak dan tanpa STNK ini melalui jalan pelosok-pelosok jauh biar nggak kena Razia Polisi.

Terbebas dari polisi namun terjerat nasib yang sampai saat ini konsisten BURUK. Pukul 00.00 taun baru kami dihiasi dengan kembang api dilangit jalan Palimo. Kenapa masih dijalan? Motornya mogok. Nggak ada bengkel buka dan tak satupun diantara kami yang ngerti. Ini motor mau apa. Kurang apa. *ndorong 5 KM dengan track naik turun secara bergantian.

Sampe dirumah yang dituju mengharap kesialan habis ternyata TIDAK. Makanan mayoritas udah abis dan jagung bakar tersisa Cuma 2 untuk 3 manusia. Sialnya lagi karna masalah ledeng yang rusak ternyata disinipun tak memiliki cukup air untuk BAB. *nahan bokong sambil nahan nangis.

Dalam segala kepenatan dan daki yang makin lengket, saya Cuma mau ngucapin.

01.30 à wellcome to 2012.

Share:

Road to 2012 part 1


*ini cerita nyata yang amat dramatis. Silakan hayatin tapi pliss jangan nangis. Karna kamu jelek kalo senyum dan ketawa. Apa lagi nangis. Maaf kalo bumbu boongnya kebanyakan karna yang nulis humoris, apapun yang penting baca artikel ini gratis.

2 hari lagi taun baru 2012, hari ini masih belum ada tempat dan rencana. Hari menunjukkan hampir pukul empat sore jadi saya beserta rombongan memutuskan untuk jalan-jalan ke mall sambil mikir besok mau kerumah siapa, ngapain. Sebelum berangkat ke mall mau mandi dan kesialan pertama pun yerjadi. Nggak ada air. Ohhh ibu kos temen saya pelit seperempat idup nih. Emang PDAM di Palembang mahal ya? Mahal mana sama bayaran kosan ini?

Tersepak saya dan beberapa temen lain pergi ke mall dengan menahan sedikit rasa gatal dan banyak beban, M-A-L-U.  Walau ada salah seorang dari kami yang tidak ikut dan memilih berkunjung ke rumah temen yang cukup jauh. Males banget mau kesana jadi jalan-jalan di PS aja. Di PS sempet milih baju tapi. Tapi, tapi tapi kesialan kedua pun muncul. Dompet saya ketinggalan di kost temen yang tadi.

Atas dasar kebersamaan kami ber empat pun sama-sama kembali ke kost tersebut yang terletak di plaju. Cukup jauh dari PS. Pukul sudah menunjukkan setengah sembilan perutpun lapar. Karna duit dikantong Cuma lima ribuan terpaksa Cuma makan pempek panggang. Bersama temen-temen lain yang juga bokek.

Sesampainya di kost tersebut, kesialan ke sekian pun muncul. Ternyata oh ternyata tanpa disadari tak seorangpun diantara kami berempat yang memegang kunci. Yang sekarang sedang tergolek santai di tas teman kami yang ada di KM 11. Lesu mulai muncul dan semua anggota yang ketimpa sial mulai mengorek hidung mereka. Ngupil.

Dengan segenap kekuatan hati kami berjalan menuju jalan besar, ayo susul ke KM 11. Belum habis tampang buras ditunjukkan kesialan muncul lagi. Tak ada bis! Tinggal angkot yang paling banter mau nganter sampe KM 5. Raga ini mulai tersiksa, ingin rasanya saya ngeteh sambil buang air kecil saat ini. Yang lain mulai nunjukin mata kayak squidward.

Jreng-jreng-jreng musik kemenangan hampir terdengar saat kami berhasil brjalan kaki malam sepanjang 6 KM mencapai komplek perumahan yang dituju. Kulit lengket dan harapan yang hampir pupuspun segar kembali kala melihat pagar rumah teman kami itu. Segenap tenaga yang tersisa saya gunakan untuk membuka kunci pagar dan Astagfirullahaladzim, kesialan lagi dan lagi MUNCUL.

Pagar dikunci gembok segede kepala. Beberapa kali memanggil namun tak ada jawaban. Ingin rasanya saya nelpon tapi tak ada pulsa. Semua batery HP temen drop. Pas saya mau masang kartu mereka, HP saya ikutan drop. S-I-A-L. Oh yoga dimana kau? Kami diluar sini menanti kenhangatan rumahmu. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.

Stressfull...

Sampai tengah malam kami menunggu, belum ada tanda kemunculan si Yoga. Yaudah kami putusin jalan ke palimo lagi, kerumah temen yang disana. Dari pada bengong didepan rumah orang tengah malem gini, kalo nggak kesurupan dikirain maling. Tapi entah ada apa lagi belum selangkah berjalan hujan turun deras sekali. Pengen rasanya saya garuk bokong buat nahan nangis.

Habis gelap tetaplah gelap, namanya aja malem. Walau gelap akhirnya Yoga datang dan kami bisa masuk kedalam rumahnya yang hangat. Tapi... apa lagi? Kami kan nggak bawa baju ganti, baju yang ini basah. #tidurpakeunderwarebersamateman-teman.

Udah ni kaki mau lepas dengan perut pusing dan kepala laper. Kami tidur dengan pulass.... selamat tinggal hari ini!!!
Share:

Monday, December 26, 2011

SASTRA


*Cerita ini hanya fiktif dan rekayasa. Jika ada kesamaan nama dan tempat kejadian, dapat dijamin hanya merupakan kebetulan. Selamat menikmati.

SASTRA

Masih kupelototi baris demi baris tulisan kisah ini. Cukup sendu dan memukau saat benar dalam kuhayati. Kata-katanya bagai melompat menari dimataku, menceritakan setiap detil isi penyampaian penulis. Tak habis kagumku, sabab Ia yang menulis ini mampu menyelesaikan dengan semua kata indah dalam basis cerita dramatikal komplit satu buku. Luar biasa!

Dari itu muncul semua rasa keinginanku untuk lagi dan lagi membaca buku lain dan lain lagi. Bagai candu yang telah menyekapku, aku ingin baca lagi. Sebuah rasa yang dalam tercipta akan gabungan kata-kata yang bahkan sulit kubayangkan untuk membuatnya. Ini adalah seni, aku bahkan merasa terhormat untuk mengaguminya.

Kekaguman itu bisa tumbuh dan menjalar. Kini bukan hanya novel, aku mulai membaca cerpen, puisi, pantun, bahkan menonton film. Dalam diam kekaguman ini kupendam. Manakala sesuatu yang buruk akan terjadi jika seseorang mengetahuinya. Manakala aku harus melupakan ini kalau mereka sampai tau. Manakala aku akan merasa sendiri  jika aku harus hidup tanpa ini. Manakala aku akan menemukan pilihan yang sulit lalu berputus asa. Aku tak mau.

Tok.. tok.. tok.. terdengar pintu kamarku diketuk beberapa kali sampai aku tersadar dan segera mengalihkan pandanganku. Secepat kilat kututup buku ini dan kusimpan di dalam laci, dibawah buku yang lain. Segera aku memutar kursi dan menghadap kearah pintu, sambil memegang koran dan memasang muka manis plus senyum.

Seorang pembantu masuk dan meletakkan beberapa helai roti dan selai coklat diatas mejaku. Ijah namanya. Ijah ini sebenarnya hanya terpaut beberapa tahun dariku, tapi karena dia miskin dan tidak merawat dirinya dengan baik, maka ia terlihat sedikit tua. Tak seperti halnya aku yang terlihat bagai pengusaha congkak yang meluluri muka mereka dengan lumpur setiap harinya.

Namaku adalah Tomi. Anak pengusaha yang dulu pernah masuk sepuluh besar urutan orang terkaya di Indonesia.  Tidak demikian saat ini, semenjak ayahku sakit keras dan mengurangi perhatian terhadap perusahaan makanan kering miliknya itu. Namun hal itu tidak berarti baik bagiku, karna sejak setahun yang lalu dia mulai dengan sangat intensif mengurus proses regenerasi pimpinan perusahaannya. Aku.
Bukan menyombongkan diri, tapi aku benar-benar anak yang pintar. Tidak pernah mengulang dalam mata kuliah apapun. Memasuki Universitas Indonesia jurusan management pada umur 16 tahun, dan sekarang berumur 18 tahun. Aku berjanji untuk lulus sebelum berumur 20 tahun dan mendapat IPK diatas 3,8.

Hari libur memang terasa sangat cepat walau harus kuhabiskan seharian dirumah, maka tanpa terasa saat ini mentari telah menyusup kembali pada kegelapan. Lagi. Ada yang beda dari rutinitasku hari ini, entah mengapa papan catur yang seharian terletak diatas meja teras ini serasa memanggilku untuk dekat, duduk, dan menyentuhnya.

Sebentar saja kuutak-atik anak dan papan catir ini, sebelum ayahku datang dan mengajukan ajakan duel. Pembicaraan ayah dan anak remaja seharusnya adalah hal lucu atau beberapa dorongan motivas, tapi aku sama sekali bukan tipe anak yang membutuhkan hal itu. Pembicaraan kami adalah masalah.

Ayah   : bagaimana kuliahmu?
Aku     : baik.
Ayah   : jangan terpengaruh dunia luar, kita semua memiliki nasib yang berbeda-beda. (memindahkan anak catur)
Aku     : baiklah... (memakan anak caturnya)
Ayah   : ada ribuan orang yang menggantungkan hidupnya pada keputusan kita, dan ayah membutuhkan seorang jenius untuk menjaga agar keputusan yang keluar selalu tepat. Jadi jangan sampai salah mengambil keputusan.
Aku     : aku tau apa yang kulakukan. (memakan anak caturnya lagi)
Ayah   : benarkah? (menggeser sedikit anak caturnya). Skak mat!

Share:

Saturday, December 24, 2011

Cerita Gang Buntu


*cerita ini hanya fiktif dan direkayasa. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian. Selamat ! anda memiliki hari yang suram, karna ini cerita SERAM.

Cerita gang buntu
Sutu hari, ada 3 sekawan yang sudah sangat akrab berjalan bersama tapi nggak gandengan tengan. Mengingat salah satu dari mereka adalah perempuan, dan salah duanya adalah laki-laki. Mereka selalu bersama-sama saat bepergian kecuali waktu didalam toilet. Begitu pula hari ini, mereka merencanakan pergi bersama kerumah salah satu temen mereka yang katanya hari ini baru pulang dari Jakarta. Maklum mau minta oleh-oleh.

Singkat cerita, tiga makhluk inipun mengirimkan informasi via sms kepada teman mereka tersebut. Mereka memberi tahukan kepada teman itu kalau mereka akan datang hari ini untuk silaturahmi dan merayakan kedatangannya.

Waktu berlalu walau hari belum berganti namun terasa sudah lama sekali. Teman mereka tak kunjung membalas sms. Saat ditelfon operator menginformasikan bahwa nomer sedang sibuk. Karna ada perasaan tak sabar campur khawatir, mereka akhirnya memutuskan untuk langsung mendatangi rumah teman mereka tersebut yang terletak di gang buntu.

Ketiga sahabat ini datang bersama-sama dengan perasaan yang campur aduk, ada apa kira-kira? Namun sesampainya dirumah sang teman, kekhawatiran mereka hilanng seketika. Teman mereka menyambut dengan penuh hangat. Mereka dipersilahkan duduk dan disuguhi bberapa kue-kue yang terlihat sangat enak. Mereka memakannya dengan lahap.

Obrolan dan candaan seputar perjalanan jakarta membuat waktu terasa berlalu begitu cepat. Tak terasa hari sudah sore menjelang magrib. Kedua teman berpamitan pulang karna ada tugas yang belum diselesaikan. Kini tinggal seorang, bersama temannya yang baru pulang dari Jakarta tersebut. Saat mereka sedang duduk berdua dan saling diam karna sedang adzan magrib, tiba-tiba seorang yang masih tinggal dirumah temanya ini mendapat sms balasan dari teman yang sedang di Jakarta. Begini isinya : “brow, hari ini gw gk jadi pulang karna cuaca buruk. Besok aja gw kasih oleh2nya yak :D”.

*hening...

Kemudian ia tak berani menoleh atau melirik atau bahkan berkedip.

Gang buntu itu bisa dimana saja. Nama ketiga sahabat itu adalah aku, kau, dan dia. Seorang yang tinggal dan tidak ikut pulang itu kau. Suatu yang kita makan itu apa?  Dan yang bersamamu saat ini adalah, siapa?

*kau slalu kurasa, hadirmu... antara ada dan tiada....
Share:
www.bocup.info. Powered by Blogger.

Contributors