Stories and Sh*t

Sunday, December 30, 2018

Namanya adalah... (7)


CHAPTER 7. NAMANYA ADALAH…

Present day…16

Aku gemetar memegang tangan gadis belia yang tertidur pulas di pelukanku. Kami berada di belantaran hutan Aceh. Dengan api unggun kecil di depanku. Entah tepatnya di mana akupun tak tau. Untunglah tiga hari ini tak mendung apalagi hujan. Pakaian yang kami kenakan sudah lusuh dan bekal air hampir habis. Seharian ini bahkan kami sudah tidak makan lagi kecuali buah apapun yang bisa kami temui disepanjang rimbunnya pepohonan.

Setahun lalu, setelah kejadian nahas yang disebabkan gadis yang aku peluk sekarang. Kami berlari ke arah utara. Terus hingga ujung jalan dan tak ada daratan lagi. hingga akhirnya kami sampai pada sebuah titik dengan pantai dan barisan pohon yang indah. Kosong… pantai indah itu hampir tak memiliki pengunjung.

 Kami mampir ke sebuah Desa kecil di kecamatan Peureulak, Aceh Utara. Daerahnya masih asri dan orang-orangnya… cukup ramah. Tidak ada turis dengan kutang dan g-string di sepanjang bibir pantai. Malahan banyak berdiri Dayah atau sering kita sebut pesantren di sekitaran pantai dan pedesaan. Daerah ini jauh sekali dari hiruk pikuk kota.

Dengan sedikit susah payah dan kebohongan, kami mulai menetap dan membangun hidup disana. Kami menjual mobil dengan surat sebelah, dan mendirikan rumah. Memakai nama lain, dan hidup bertetangga dengan baik. Aku sempat menjadi nelayang untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya menemukan pekerjaan lain yang sesuai kemampuanku, mengajar. Untuk setahun penuh, kami masih menjadi sepasang suami istri dan merasakan surga.

Sampai seminggu lalu. Tiga orang bersenjata akhirnya menemukan kami. Bukan polisi sepertinya. Aku tak tau mengapa mereka bisa mencari kami segetol ini. Apakah ada sesuatu yang mereka cari? Entahlah, karna aku tak bisa mencari tau atau bernegosisasi. Mereka telah membunuh pak Fauzi, tetangga terdekat kami dan sekalian keluarganya. Semua, tak ada yang bersisa.

Kami kabur dengan sepeda motor hingga kehabisan bensin dan harus mencacah belantara hutan. Sampai saat inipun, sepertinya mereka masih mengejar.

Aku susun nafas dengan tenang. Aku memperhatikan sekeliling dengan seksama. Hari mulai gelap dan nyamuk mulai merajalela. Kau tak akan tahan dengan puluhan bahkan ratusan nyamuk yang menyedot darahmu sekaligus, maka api unggun adalah sebuah keharusan. Namun api unggun sangat beresiko. Seseorang bisa saja menemukan kami dari jauh.

Aku perhatikan gadis belia yang seminggu lalu masih kusebut sebagai istri. Wajahnya kotor. Namun tetap cantik. Ia mengenakan kemeja motif garis, kemejaku.. yang tampak kebesaran namun membuatnya tampak seksi. Bawahannya celana cinos panjang. di desa itu, wanita tak diperkenankan memakai jeans. pakaianya kumal dan kakinya terlihat bengkak. Sudah berhari-hari kami menjajaki hutan tanpa alas kaki. Rambut panjangnya terurai menutupi dahinya. Berantakan. Tapi tetap saja, cantik. Kurasa aku sudah mulai kehilangan akal sehatku.

Aku melamun, apa yang akan kami lakukan jika kami bisa lolos dari situasi ini. Mungkin, aku ingin hidup benar-benar terpisah dari dunia. Bagaimana jika hidup di pesisir pantai lain yang benar-benar tidak berpenghuni. Atau mungkin, hidup di tengah kota membangun keluarga. Toh terkadang keramaian adalah tempat persembunyian paling sempurna. Kemana kami akan pergi, Jakarta? Surabaya? Makassar? Tidak… jika ingin keramaian, mungkin kami harus pergi ke belahan dunia lain. New york? Tokyo? Hahaha… aku mulai tertawa sendiri. Aku benar-benar kehilangan akal sehat.

Gadisku terbangun.

“aku ingin buang air kecil” katanya.

Kemudian ia berdiri dan mengambil mandau atau parang panjang yang kami gunakan untuk membuka jalan beberapa hari ini menyusur hutan. Menghilang di tengah rerimbunan gelap. Hari mulai malam. Dan aku menambahkan beberapa kayu bakar pada api di depanku. Semilir angin malam terasa dingin. Berada di bawah pepohonan serindang ini membuat kami harus memakai pakaian ekstra berlapis saat tidur. Untunglah kami sempat membawanya.

Beberapa menit berlalu, dia masih belum juga kembali. Apa yang terjadi? Aku mulai berpikir yang tidak-tidak.

Benar saja. Tak lama setelah itu aku mendengar suara keributan obrolan gerombolan laki-laki yang pelan tapi pasti, mendekat ke arahku. Cepat kuambil sisa air pada wadah minum kami dan menyiramkannya pada api. Padam. Kakiku mengacak-acak bekas perapian agar asapnya tidak menggumpal dan memberikan tanda. Aku menundukkan badan dan memosisikan diri tiarap di tanah.

Kupeluk tas ransel kami dan kubenamkan tubuhku diantara semak-semak di bawah pohon besar yang tadi kami jadikan sandaran tidur. Langkah-langkah kaki mulai terdengar berjalan mendekat. Tiga orang lelaki berbadan besar di atas rata-rata. Mungkin tingginya berkisar 185 sampai 190 cm. mereka semua sepantar dan berbadan kekar. Apa ini, perawakan mereka seperti pasukan khusus. Bukan polisi, apalagi preman.

Mereka menyisir area sekitar api unggun menggunakan senter. Posisiku masih aman, sepertinya mereka tak memperhatikan arahku. Salah seorang dari mereka memegang bekas api unggun dan mengusap-usapnya menggunakan telapak tangan. Kemudian memperhatikan sekitar. Aku manahan nafas, lalu mengeluarkannya selambat mungkin. Menariknya lagi perlahan, lalu menahannya lagi.

Mengapa hutan sepertinya berpihak pada mereka. Saat mereka mulai melihat-lihat area sekeliling dengan seksama, suara jangkrik spontan berhenti seolah mereka pun takut pada gerombolan orang ini.

Tiba-tiba aku merasakan tengkuk leherku di cengkeram dari belakang. Mereka mendapatkanku… salah seorang dari mereka mengangkat tubuhku ke udara bak mencekikku dari belakang. Aku hanya terdiam walau agak terkejut. Mau apa lagi, apa yang bisa kulakukan.

Diangkatnya aku dengan posisi membelakanginya. Kakiku melayang di udara. Ransel di pelukanku terlepas dan aku memegangi tangan yang menarik leherku, berusaha mengurangi tegangan yang di rasakan tengkuk leher. Dua orang yang lain menoleh dan melihat ke arahku. Mereka mengarahkan senter ke wajahku seperti mencari tau. Tidak satupun dari mereka bicara.

Ceklek. Aku merasakan sesuatu yang keras menekan bagian belakang kepalaku. Sepertinya ia menekankan senjata api.

“dimana perempuan itu anak muda?”  akhirnya salah seorang bicara, orang  yang sedang menodongkan pistolnya padaku.

Aku diam saja. Entah apa yang bisa kulakukan di saat seperti itu. Dua orang lain di hadapanku mulai mendekat dan berdiri berkecak pinggang memperhatikan. Salah seorang dari mereka tersenyum geli. Dengan situasi yang mungkin di ujung ajalku, anehnya bahkan jantungku pun tak berdegup terlalu kencang.

Orang itu menekankan pistolnya lebih kencang, memintaku segera mengeluarkan suara. Aku bisa merasakan mereka bertiga melihat ke arahku memperhatikan dengan seksama. Lalu gerakan pelan di belakang kepalaku mengisyaratkan dia siap menarik pelatuk senjata apinya. Perlahan… aku bisa mendengar suara gesekan tangannya yang sebentar lagi akan meledakkan tengkorak kepalaku. Atau paling tidak memberikan lubang yang cukup besar. Aku menarik nafas dalam-dalam.

Saat aku mulai memejamkan mata dan siap merasakan kematian itu datang…

Crootttt.. hempasan keras terasa mengalir di belakangku. Aku terjatuh secara tiba-tiba terlungkup di tanah. Baru saja ku buka wajahku menoleh ke arah dua orang di hadapanku. Suara tembakan peluru menghujam ke pundak salah satu dari mereka. “aaarrrrrhhhh” katanya menjerit memegang pundaknya yang sedikit terserempet peluru.

“Jangan bergerak!” suara lantang seorang perempuan dari belakang. Dua lelaki besar di hadapanku mematung dan melihat penuh benci kepada perempuan itu. Gadisku. Disana dia berdiri tegak, kemejanya yang kebesaran kembali di nodai bercak darah, begitu juga punggungku. Aku melihat seorang yang mati seketika di sebelahku, sebilah parang masih melekat di kepalanya, membelah sebagian otaknya yang nyaris terlihat jelas.

“eeerrmmmmmhhhh” salah seorang laki-laki menggeram kesakitan memegang pundaknya. Darah mengalir menyelip melalui jari-jari besarnya.

Aku cepat-cepat berdiri dan mengepakkan sisa tanah dan rumput di pakaianku. Mendekati mayat di sebelahku dan mencabut parang yang melekat di kepalanya, ku gesek kanan kiri sisi parang pada pakaian mayat itu dan membuatnya bersih kembali dari bekas darah serta sebagian cairan yang mungkin saja otaknya.

Kami berdiri berhadap-hadapan di tengah remang kegelapan rimba. Cahaya bulan yang lumayan terang menerobos dahan-dahan dan menyajikan pemandangan yang indah. Beberapa kunang-kunang juga beterbangan mengelilingi tempat kami berdiri. Perlahan tapi pasti, area ini menjadi terang dengan wajah-wajah kami yang terlihat jelas. Momen ini akan menjadi sangat romantis jika saja tak ada darah disana-sini, juga mayat, juga senjata, juga empat orang yang berdiri bersitegang satu sama lain.

calm down, ok..”17 kata salah seorang dari mereka. “we can talk about this.”18 Lelaki itu maju mendekat dan tangannya mengarah ke depan menandakan agar kami tenang. Wajahnya terlihat jelas kini, bejanggut tebal. Warnanya kekuningan. Kulitnya putih seperti keturunan bule, tapi aku tau dia masih warga pribumi. Aksennya.

Pria yang satu lagi berdiri dengan masih mengikat bahunya dengan seuntai kain. dia merobek  lengan bajunya sendiri. Kulitnya coklat menuju hitam, wajahnya mulus tanpa bulu dan rambutnya juga botak.

“jangan bergerak!” sekali lagi gadis di sebelahku berteriak. “DOR!!!” Kemudian ia menembakkan senjata ke udara. Dan mengacungkannya pada dua lelaki itu lagi. aku pun mulai mengacungkan parang di genggamanku pada mereka.

Bukannya takut, mereka berdua malah saling melihat satu sama lain dan tertawa.
Kemudian mereka mengalihkan pandangan pada kami dan berkata… “matilah kalian sekarang.” Secara perlahan dan mulai mendekat pada kami.

Gadis di sebelahku mengecek sejata yang di pegangnya, dan kemudian mencoba menembak ke arah mereka. “Cklek.. cklek” pelurunya sudah habis. Dia melotot dan melihat ke arahku.

“Lari!” kataku berteriak.

Ia pun melemparkan senjata tadi dan berlari secepatnya menerobos remang rimba. Menghilang di balik semak belukar.

Dua lelaki berbadan besar tadi mencoba mengejarnya, namun belum sempat melewatiku parang panjang melesat di hadapan mereka, salah langkah maka dada mereka robek cukup dalam. Seorang yang botak dan bahunya terluka sudah berdiri tegak dan mengambil sebilah pisau dari tas kecil di bagian paha celananya. Seorang yang berjanggut tebal di hadapanku melihat ke arah gadis tadi berlari. Dan memundurkan langkahnya sedikit.

knock it off dude19 kata seorang yang botak sambil maju memainkan pisau miliknya. Cukup besar, pisau itu bisa menyayat kulit babi sekalipun. “menyingkir atau ma…”

“swousssshhh” aku ayunkan lagi parangku ke hadapannya. Jika ia bersikeras maju maka akan aku kerahkan serangan tak beraturan yang sering aku tonton di televisi. Apapun  itu. Aku hanya mengulur waktu selama mungkin. Mungkin saat ini juga adalah saat terakhirku. Aku tak peduli.

Si lelaki berjanggut menghembuskan nafas dan menggaruk dagunya yang penuh rambut. Kemudian ia melihat kearah lelaki botak dan menggunakan isyarat mata. Aku masih memperhatikan setiap gerak mereka untuk berjaga-jaga jika saja mereka melakukan serangan dadakan.

Benar saja, sepersekian detik setelahnya lelaki botak itu melemparkan pisaunya padaku. Aku yang sangat fokus memperhatikan mereka bisa menghindarinya dengan melompat ke samping. Pisaunya merancau saja dengan arah tak beraturan menuju semak belukar, hilang.

Namun ternyata pisau itu memang tak pernah dimaksudkan untuk mengenaiku.

Saat aku fokus untuk menghindari lemparan pisau, lelaki berjanggut tadi juga langsung melompat ke arahku. Tangan kirinya yang cukup panjang mampu menggapai pergelangan tangan kananku yang memegang parang, tanganku sudah terkunci. Tangan kirinya mencekik leherku dan sekali lagi, kakiku melayang tak menapak tanah. Kali ini, jantungku berdegup amat kecang dan tubuhku kejang-kejang.
Tangan kiriku mencoba memukul wajahnya sekuat tenaga. “bukkk!” keras sekali bunyinya. Tapi hanya mampu menolehkan wajahnya ke samping. Yang ada dia makin garang dan beringas. Di ayunkannya aku ke bawah, tanganku di hempaskan dengan tekukan lututnya yang melayang ke atas. “ kreteekkk” aku bisa merasakan sedikit bagian tulang lengan kananku patah.

“arrrrrrrrgggggghhhhhh” kataku menjerit tertahan. Tangan kananku lemas dan melepaskan parang yang ku pegang. Tak lama kemudian di ayunkan tubuhku sangat kencang, terpental dan menghempas secara horizontal ke arah batang pohon besar tempat ku bersandar beberapa saat lalu. Terjatuh kebawah meninggalkan suara keras ranting-ranting kecil yang patah tertimpa badanku.

Kemudian ia datang lagi dengan cepat, kaki besarnya menendang perutku. Sampai aku memuntahkan air dengan jumlah yang sangat banyak. Aku tebatuk terbata-bata merungkuk melingkarkan badanku menahan sakit di perut dan lengan kananku. Belum habis aku membuang satu tarikan nafas, tangannya mencengkeram kerah bajuku, mengangkatku sedikit menjadi posisi  berdiri beralaskan lutut. Aku masih mampu melihat ke arahnya.

Sesaat kemudian dia berjongkok dengan tangan kirinya masih mencengkeram kerah bajuku, tangan kanannya melayangkan tinju ke arah wajahku, aku berusaha menepis dengan tangan kiri. Bukan tertepis, tangan kiriku kalah kuat dan ikut menghantam membuat wajahku bonyok. Pelipis kiri di atas mataku sudah berlinang darah segar. Tanganku lemas di kanan maupun di kiri. Mata kiriku bengkak tak dapat melihat dengan jelas. Penglihatanku mulai kabur.. aku hampir jatuh pingsan.

Namun sekali lagi hantaman kepal tinjunya yang besar menerpa wajahku, tanpa perlindungan apapun. Tersentak ke belakang. Hidungku remuk. Darah mengalir keluar dari balik kulit hidungku. Ditariknya lagi kerah bajuku ke depan, di tinjunya lagi. dan sekali lagi..

Aku terkulai lemas menghadap tanah. Tangan kiri lelaki berjenggot tebal itu masih menahanku agar tidak jatuh ke tanah. Meremas daguku dan menatapku yang sudah hampir hilang kesadaran.
now what?”20 katanya. Sekali lagi tinjunya menghantam. Kali ini perutku, lebih keras dari tendangannya yang tadi. Aku bisa merasa bagai isi perutku ingin keluar semua. Darah segar muncrat dari mulutku.

Aku terkulai lemah. Tak mampu lagi melihat ke arah mereka. Terlungkup di tanah lembab dan daun-daun kering. Wajahku mengarah ke samping. Pandanganku samar melihat dedaunan yang kering… beberapa semut kecil melintas di hadapanku. Cahaya kunang mulai memudar seperti melihat cahaya di tempat jauh. Pandanganku perlahan menjadi gelap.

Aku masih bisa merasakan nyeri pada perut, tangan, punggung, mata, dan hidungku. Saat udara masuk melalui lubang hidungpun membuat nyerinya terasa. Bau rerumputan dan daun kering perlahan memenuhi hidung, merasuk ke otakku. Lembabnya tanah dan dinginya malam menjalar lewat kulitku. Semilir angin menerpa rambutku. Perlahan… bunyi jangkrik terdengar kembali memenuhi malam. Aneh… dalam keadaan yang sudah setengah sadar. Aku bisa mendengar suara-suara nun jauh di sana. Tupai yang baru pulang ke rumah pohonnya. Burung Hantu yang baru membuka matanya. Kadal yang berlari seliweran melintas kesana-kemari. Ular yang melata pelan tapi pasti, melintas pohon melalui dahan, ranting demi ranting. Kemudian suara itu. Suara derap kaki yang walaupun lelah dan membengkak, tetap berlari, berlari sejauh mungkin menerpa dedaunan dan duri-duri, menerpa dinginnya malam. Berkilo meter dari sini. Pergilah jauh… larilah sejauh mungkin. Gadisku.

***

Saat aku merasa nyawaku sudah di ujung tenggorokan.

“pyarrr” aku terbangun!

Sakit dan nyeri di hidung serta mata kiriku tearasa lagi. makin nyeri diterpa air dingin di malam hari. Aku bernafas tersengal. Terbatuk-batuk. Sesaat lalu aku berpikir telah mati. Darah segar di hidungku yang mengering mulai keluar lagi. Bau anyir menjalar diterpa angin. Anyir darahku sendiri. Aku merasakan perutku yang masih sakit, juga sekujur tubuhku yang lain.

Lengan kananku sudah menunjukkan gejala bengkak dan membiru. Kedua tanganku diikat seuntai tali dan dilingkarkan pada tiang kecil yang menjadi penyanggah tenda tempat aku berada sekarang.

Dihadapanku, terdapat seorang pria berkisar 40-an, yang duduk dikursi lipat dan sedikit membungkuk ke arahku. Matanya sipit, tapi bukan cina, karna kulitnya sawo matang sepertiku. Lebih seperti orang jepang. Rambutnya cepak dan sudah beruban sebagian di daerah samping, atau entah itu hanya sebagai style saja.

“hey.. hey..” katanya menjentikkan jarinya di hadapanku. Aku memandangnya dengan bingung.

boy.. oh boy… apa yang sudah kau lakukan anak muda. Kau pikir kau seorang pahlawan?” katanya lagi berkata santai sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dekat sekali hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya.

Aku mundur sedikit bersiap kalau-kalau dia akan melayangkan pukulan seperti yang barusaja kurasakan sebelum pingsan.

Kemudian dia mundur lagi dengan posisi duduk normal.

“oke, kita langsung saja. Dimana perempuan jalang itu” katanya mendekat lagi. kali ini tangannya menjambak rambutku. Dijambakknya ke belakang sehingga memposisikan aku yang mendongak ke atas. Diterpa silaunya lampu emergency berbaterai yang di gantungkan di bagian atas tenda. Aku mengatur nafasku dan sedikit menyipitkan mata.

look man21, apapun yang kau cari dari si Bima itu. Kami tak mengambilnya.” Kataku lirih. Tidak, aku tidak selemas itu. Tapi aku harus mengirit tenaga yang ku pakai seminimal mungkin. Kalau-kalau saja tuhan bebaik hati mengirimkan salah satu malaikatnya padaku malam ini. aku masih bisa lolos dari situasi terburuk yang pernah ku alami seumur hidupku.

“he?” katanya heran. Wajahnya menunjukkan mimik bingung dan menoleh ke belakang. Melihat kepada dua orang yang hampir menghabisi nyawaku tadi, si berewok dan si botak. Mereka juga mengangkat bahunya dan menggelengkan kepala. Pertanda mereka tak mengerti.

“gadis itu…” lanjutku lagi “hanya berada di tempat dan waktu yang salah. Aku tak tau apa yang kalian cari… dan apa hubungan kalian dengan Bima dan dua orang polisi yang mati itu, tapi dia tidak berada disana untuk ikut campur. Dia hanya korban.” Kataku meyakinkan mereka.

Pria itu melihat ke arahku dengan tatapan curiga kemudian berkata… “oke, lanjutkan.” Katanya.

“dia di culik oleh Bima, mereka memang cukup dekat. Dia tidak tau bahwa Bima memiliki urusan dengan polisi di sana. Yang dia lakukan hanyalah melarikan diri, dan saat dia melarikan diri, dia tanpa sengaja membunuh Bima. Oh ya, dan dua orang polisi itu… Bima yang membunuh mereka, dia tak melakukan apapun. Dia bahkan tak mengetahui soal transaksi apapun yang sebenarnya kalian lakukan. Dia hanya seorang gadis yang ketakutan dan melarikan diri.” Kataku sambil terengah-engah.

Aku tak mengharapkan mereka percaya dan begitusaja melepaskanku. Walau bagaimanapun, tampaknya nyawaku sudah tekunci mati di tenda ini. atau di luar sekitar tenda ini. Namun setidaknya, gadisku bisa terbebas dari kejaran mereka. Karna yang kukatakan memang benar adanya.

Pria itu kemudian berdiri sebentar dan memakai sarung tangan hitam. Lalu mengambil sebilah pistol dari bagian belakang celananya. Kemudian duduk lagi, sambil menggarukkan moncong pistol itu di area sekitar hidungnya. Dia, bersiap menembakku.

say boy…” katanya ringan. “who’s that girl’s name?” 22

“eh?” Aku menoleh bingung…

that girl you protect with your life.23 Katanya mendekat lagi padaku. “what. Is. Her. Name?”24

Aku makin bingung dan berkata lirih.. “Li…”

“kau pikir namanya Lisa?” katanya. “hahahahaha” dia tertawa terbahak-bahak “kalau begini jelas kau tak berhuga buat kami”. Kemudian menoleh ke arah si berewok dan si botak. Mereka juga ikut tertawa. Meninggalkan aku yang kebingungan sendiri di antara mereka.

“aku kasihan padamu nak. Kau tau… paling tidak kau akan mengetahui kebenaran sebelum kau mati.” Dia menyilangkan kakinya dan membuat pose duduk santai. Meletakkan dua tangannya yang masih memegang pistol di pangkuan. Dan mulai bercerita.

“gadis yang kau lindungi itu, namanya bukan Lisa. Bukan juga Afifah… nama yang kalian buat untuk dia gunakan setahun terakhir bukan?” dia tersenyum tipis.”kami tak kenal siapa itu Bima. Kami tak punya urusan dengannya. Entah apa yang di ceritakan jalang itu kepadamu. cuiihhhh” Katanya merasa sangat tidak senang dan membuang liurnya dengan keras.

“dia… adalah bagian dari kami. Dia adalah salah satu anggota organisasi kami yang aktif beroperasi sejak dia masuk SMA tempatmu mengajar dulu. Ku beri tahu, orang tuanya yang mati itu… bahkan bukan orang tua aslinya. Mereka hanya orang bayaran yang tidak akur. Hahahaha…” dia membuang nafas sebentar. “tapi akhirnya kami membunuh mereka karna mereka selalu membuat kebisingan dan membuat kami riskan untuk di perhatikan.”

“dalam kasus si Bumi atau siapalah anak yang kau sebutkan tadi… kau tau, harusnya dua polisi itu menemui dia disana. Bukan anak yang mati itu, tapi menemui gadis jalang itu disana untuk mengambil barang yang sudah kami titipkan padanya. Sesuatu yang sangat berharga, untuk melancarkan bisnis kami di Palembang. Tapi tebak apa… mereka semua mati.

“hahahaha… menggelikan sekali, saat kau bilang dia hanya korban yang berada di empat dan waktu yang salah. Lihatlah keadaanmu saat ini… aku rasa deskripsi itu lebih tepat untukmu. Hahahaha” dia masih tertawa lantang.

Namun aku sudah tidak memperhatikan. Bodohnya aku. Sejak awal aku mengenalnya di perpustakaan waktu itu, aku sudah menyadari dia tampak jauh lebih dewasa untuk ukuran gadis seusianya. Bukan… aku tak meragukan usianya. Tapi ketenangannya, cara dia bertingkah… dia jelas seseorang yang memiliki pengalaman hidup jauh di atas mereka yang biasanya seusia itu.

Aku terlalu acuh… aku juga terlalu senang saat kisahnya bercampur dengan kisahku. Merasakan petualangan yang mendebarkan. Memberikan kesan yang tak pernah bisa aku lupakan, aku tidak memikirkan sedetikpun… kamungkinan bahwa mungkin semua itu hanya sebuah kisah buatan. Suatu kebohongan yang di karang olehnya, dan menjadi fantasi nyata untukku.

Bahkan nama aslinyapun aku tak tau. kosong… aku benar-benar tak mengetahui apapun.

Pria itu berdiri dan mengarahkan senjatanya kepadaku. Mengokangnya sekali dan bersiap menarik pelatuk. Ia memandang kasihan kepadaku.

say… old man.”25 Kataku dengan tampang nanar. “what is her name?”

Dia tersenyum tipis sambil meletakkan mocong pistolnya di jidatku.

“Namanya adalah…”

“DOR!”


Bersambung...
Share:

Namanya adalah... (6)


CHAPTER 6. BIMA

Bima adalah lelaki idaman Stefani yang membuatnya bunuh diri. Seorang pelajar kelas 12 yang cukup terkenal di kalangan remaja seusianya. Sekaligus anak yang beritanya barusan kutonton, tentang anak hilang yang belum pulang selama tiga hari. Aku cukup mengenalnya karna gadis di hadapanku ini dekat dengannya. Satu yang aku tau, anak itu kaya. Dan dia memiliki masalah serius dengan obat-obatan terlarang.

Gadis belia di depanku berdehem dan memulai ceritanya kembali setelah melihat pakaian sekolahnya yang basah dengan banyak bercak darah.

“Hal itu terjadi sore tadi. Saat aku menyadari tubuhku terikat pada sebuah kursi tua yang masih cukup kuat. Mulutkupun di bungkam dengen kain yang melingkar ke belakang kepalaku. Aku tak bias menjerit. Ruangan itu terasa gelap. Sebaris dua baris sinar jingga cahaya sore masuk ke sela-sela dinding papan yang tidak tertutup dengan rapi. Baunya terasa seperti lahan rawa. Dengan nyaring bunyi jangkrik yang mulai terdengar, seseorang membuka pintu ruangan dan masuk ke dalam.

“Bima. Bukan berarti aku tak menduganya, tapi aku tak tau dia berani berbuat sejauh ini. Selama ini dia berusaha terlihat gentle dan manly kepadaku. Dalam otakku, mungkin senakal apapun anak ini, setidaknya dia masih memiliki harga diri. Tapi aku salah…

“Sudah lama memang, ia mencoba merayuku. Bahkan ingin menjebakku dengan berbagai cara. Karaoke, diskotik, open party… tapi semua itu masih belum bisa mencapai keinginannya. Apalagi, jika bukan kehormatanku. Walau aku sebenarnya tak yakin aku masih memiliki kehormatan”

Kali ini aku diam saja sambil menatapnya penuh keseriusan. Cerita ini memang bukan main-main. Tetap saja, dia terlalu merendahkan dirinya sendiri. She is beautiful and kind. Aku tau, bahwa dia tau itu.

“Bima mendekat dan mulai membelai pipiku dengan tangannya yang kotor. Namun entah setan apa yang merasukiku. Aku menerimanya saja. Aku tau jika aku berusaha menolak atau bahkan berontak, situasinya makin parah. Maka permainan saling rayu untuk menjebak satu sama lain ke dalam perangkappun dimulai. Dan aku rasa, aku mulai lihai dalam hal itu.”

Dia berhenti berkata sambil tertawa sejenak, menunduk kebawah. Entah itu benar terpingkal atau tenggelam dalam kesedihan, aku mendapatkan waktu yang sulit untuk mengartikannya.

“aku diam saja dan menatap Bima dengan berani. Bima pun mulai menatap balik, seperti mencari tau apa yang aku pikirkan. Yang artinya menjadi waktu yang buruk untuknya. Mataku melihat kebawah ke penutup mulutku menandakan dia untuk membukanya. Dan dia melakukannya.
’apa yang kau lakukan mengikatku begini?’ kataku seperti orang yang kesal.
‘aha, ahah, ahahahahahahah…’ Bima tertawa lantang sambil terpingkal memegangi perutnya. ‘menghindari ini dan itu.’ Katanya santai sambil tetap menatap mataku. Akupun melakukan hal yang sama.
“matanya mulai menyipit dan seakan mencari tau lebih dalam apakah aku akan menggorok lehernya jika ia melepaskan ikatan tali pada tubuhku dan tanganku yang terjuntai ke belakang. Tau apa bedebah cilik ini, dalam hatiku berkata.
‘kau tak marah padaku?’ kata Bima lagi sambil terheran-heran.
’aku pernah mendapatkan yang lebih buruk’ kataku sambil membuang nafas. ‘tapi jika kau tak melepaskan aku sekarang aku benar-benar akan marah’ kataku mulai bermain dengan pikirannya.”

“dia melepaskanmu?” potongku.

Gadis mungil ini hanya tersenyum dan mengangkat coklat panasnya dan menghirupnya dengan tarikan panjang. “ ternyata tidak semudah itu.”

“tangannya bergerilya menjelajahi tubuhku.” Ia terdiam menelan ludah. Kami berdiam diri agak lama. Tampaknya dia sedang memilih mana yang harus diceritakannya dan mana yang tidak.

“tapi aku diam saja. Aku yakin menjeritpun tak akan menghasilkan apa-apa.” Lanjutnya.

“sesaat setelah dia mulai menikmati kejahilannya, aku mulai berontak dan sedikit menghentakkan kursi dengan berat tubuhku… ‘entah kau mau melakukannya cukup sekali ini dengan kekerasan, atau melakukannya dengan mudah dan tidak perlu mengakhiri hubungan kita. Kau pilih’ kataku saat itu mencoba berani bernegosiasi.

“Bima ragu dan menatapku sejenak. Aku merasa seperti orang bosan yang memandangnya dengan bodoh. ‘aaaaaaahhhhh… cepat tanganku sudah sakit terikat sejak tadi’ kataku lagi mencoba bicara santai.

“kemudian, Bima benar-benar melepaskannya. Mulai dari ikatan kakiku, aku masih bersabar dan belum melakukan apapun. Tak lama kemudian dia mulai melepaskan ikatan di badan dan tanganku. Lepas sudah semua ikatan, tak selang berapa detik… aku memegang tali tambang bekas ikatan di tanganku dan memeluknya dari belakang.

“Bima bersantai dan lengah… ia kira aku sedang ingin bermesraan dengannya. Padahal tidak lama setelah itu aku langsung mengikatkan tali tambang tadi ke lehernya dan menarik sekuat -kuatnya ke belakang. Kami berdua terjatuh dengan posisi tanganku menarik tali yang mencekik lehernya. Kakiku mendorong bagian pundaknya kebawah. Tangannya mencoba menarik tali di lehernya namun tarikanku terlampau kuat dan mengeras.

“Gurat dahinya mulai terlihat merah dan tangannya meronta-ronta mencoba melepaskan kakiku dari pundaknya. Suaranya mulai serak dan aku melihat lidah mulai terjuntai keluar dari atas.”

Aku memperhatikan dengan seksama.

“tapi dia memiliki pisau lipat di saku belakang celananya.” Lanjutnya lagi. Kemudian aku membuang nafas menghilangkan ketegangan.

Gadis belia di hadapanku ini kembali meminum coklat yang sudah mulai dingin di tangannya. Menghirupnya sebentar dan siap melanjutkan cerita.

“Bima menarik pisau dan merancu dengan sisa nafas di tenggorokannya. Aku mencoba mempertahankan posisi agar dia tetap tertekan hingga… hingga dia kehabisan tenaga. Namun pisaunya sedikit mengenai kakiku dan aku goyah, mengendurkan tekanan pada kaki kiri”

Aku melihat kebawah, kulihat sayatan kecil pada bagian luar pergelangan kaki kirinya. Aku ingin berdiri menggambil perlengkapan p3k tapi dia memegang lenganku menandakan tidak usah repot-repot.

“Lukanya sudah kering. Lagipula bersih diguyur hujan.” Katanya.

Dia menarik nafas panjang dan mulai melanjutkan cerita.

“Bima mulai mendapat kesempatan melonggarkan tali di lehernya. Dan dia memaksimalkan kesempatan itu. Sambil masih dengan sedikit batuk dan nafas ter-engah-engah, Bima meloloskan diri dan berdiri mengacungkan pisaunya padaku. Tapi aku juga berdiri dan cepat mengangkat kursi bekas tempat aku diikat, dan melemparkan ke arahnya.

“Entah aku mendapat kekuatan dari mana, lemparanku cukup kuat dan salah satu kaki kursi mengenai kepalanya, hidungnya patah. Begitu juga salah satu kaki kursi itu. Selagi Bima menjerit keras memegangi hidungnya, aku tak membuang kesempatan dan mengambil salah satu patahan kaki kursi, ku hempaskan pada tangan kanannya yang sedang memegang pisau.

“pisau itu terpental menuju kolong hamparan papan-papan tak terpakai di pojok ruangan. Kini Bima menjerit gantian memegangi tangannya. ‘cewek bangsat!’ katanya keras. Aku sudah bersiap memukul kepalanya setelah itu, tapi ada bunyi pintu yang terbuka dan membuatku sedikit kehilangan fokus. Saat itulah, saat mataku kembali fokus ke Bima, tonjoknya yang begitu kuat menghantam rahangku. Uppercut sempurna untuk seorang gadis sepertiku, aku pun jatuh tak sadarkan diri.”

Aku memperhatikan wajah gadis di hadapanku. Ada sedikit memar biru di rahang bawahnya. Kuusap lembut dengan tangan kananku. Dan tangan kirinya ikut menggenggam tanganku. Sudah tak apa-apa, isyaratnya.

Kemudian kami kembali ke posisi semula dan dia mulai bercerita lagi.

“Saat aku terbangun mungkin sudah larut. Akupun tak tahu, tapi udara dingin sudah mulai merasuk memenuhi ruangan dan cahaya matahari tak terlihat lagi. Lampu gantung yang redup menjadi satu-satunya media yang menyambung penglihatanku dan area sekitar. Masih ruangan yang sama.

“Aku mendengar Bima sepertinya sedang bersitegang di ruang sebelah. Suaranya saling beradu tinggi dengan yang nampaknya lebih dari satu orang. Kupandang sekitar tubuhku yang sedang tegeletak di lantai. Tanganku terikat kebelakang, dan kakiku diikat lebih kencang dari sebelumnya. Posisiku bagai ulat yang menggeliat-geliat.

“Aku mencoba tenang dan bernafas dengan pelan. Hamparan debu beterbangan di sekitar hidungku. Saat itu, aku benar-benar berdoa untuk tidak bersin. Aku melihat dan menyisir area sekitar dengan penglihatan seadanya. Mencoba mencari tau apa yang bisa aku lakukan.

“Terlihat silau cahaya di balik tumpukan papan di pojok ruangan. Pisau yang tadi digunakan Bima masih tergeletak disana. Aku bergeliat sepelan mungkin agar mereka tak mendengar dari ruang sebelah. Untungnya mereka berbicara dengan nada tinggi. Agaknya suara ulat menggeliat yang aku timbulkan tak terjamah telinga mereka.

“Aku miringkan badanku kesamping, kucoba menggapai pisau itu dengan tanganku yang terikat ke belakang. Namun posisi ini membuat aku susah mengendalikan tanganku. Alih-alih mendapatkan pisau itu, aku malah membuatnya makin jauh. Aku berputar, kini miring menghadap tumpukan papan. ku bengkokkan kakiku dan kuselipkan masuk ke dalam tumpukan papan. Sulit sekali menggapai pisau itu, bahkan dengan ukuran kaki sekecil kakiku, dan saat aku hampir mendapatkannya…

“suara tembakan terdengar dari ruang sebelah. Seseorang menjerit dan mengeluarkan segala cacian yang dia punya. Bima tampaknya baik-baik saja dengan suaranya yang paling lantang dan menyuruh dua orang lainnya agar diam dan tidak bergerak. Saat itu aku berpikir, Celaka! Sepertinya bima yang menembakkan senjata.
“aku bergegas meraih pisau dan mengambilnya dengan tanganku. Dengan susah payah aku memotong ikatan di tangan ini,  akhirnya lepas juga. Saat itu sebenarnya aku benar-benar takut. Kurasakan dadaku berdebar kencang. Jika bima sampai datang ke ruangan itu dan melihatku ingin melepaskan diri lagi. Habislah sudah…

“Aku sedikit terbata-bata ingin memotong tali yang mengikat kakiku. Namun suara tembakan lain terdengar dan mereka semua terdiam setelahnya. Aku pikir bima menuju ke ruanganku.

“tanpa pikir panjang, aku kembali ke posisi semula dengan tangan yang tampak bagai masih terikat kebelakang. Pisau ku sembunyikan di balik tanganku dan berpura-pura pingsan.

“tak lama kemudian Bima datang dan nampaknya mondar-mandir di sekitarku. Aku tak tau persis karna masih memejamkan mata berpura-pura pingsan. Kemudian dia menunduk, nafasnya terasa di ubun-ubunku. Untungnya dia tak mendengarkan degupan jantungku.

“Bima membalikkan badanku agar menjadi terletang dan mulai menepuk pipiku bagai tamaparan ringan di kanan dan kiri. Kemudian memegang daguku dan berkata. ‘hey… hey…’ aku masih saja berpura-pura pingsan. ‘shiiiiiiiiit!’15 katanya keras.. aku tau dia menoleh kebelakang saat mengatakan itu karna arah suaranya tidak padaku.

“saat itulah aku mengintip dan memperhatikan dia masih jongkok di hadapanku namun masih melihat ke arah pintu menuju ruang sebelah. Tanpa pikir panjang ku tarik tanganku kedepan dan menyabetkan pisau menancap di lehernya bagian samping. Reflek dan terkejut, tangan kanannya ingin meraih pisau yang masih menancap di lehernya. Namun kakiku yang masih dengan posisi terikat sigap menahan tangannya dengan menjepitnya menggunakan lekukan lututku.

“Tangan kirinya yang masih memegang senjata mengarahkan senjata ke arahku dan langsung tertahan dengan dua tanganku yang lain. Aku menahan tanganya sekuat tenaga menjauhkan mata pistol dari wajahku. Walau sudah tertusuk namun tenaganya masih cukup kuat. Darah mulai mengucur dari leher dan mulutnya. Wajahnya tepat berada di sekitar pundakku. Wajahnya yang memerah melotot ke arahku tanpa mengatakan apapun. Urat lehernya berdegup sekali-dua kali memuncratkan darah ke seragamku. Sampai akhirnya dia lemas dan membuka mulutnya lebar-lebar. Wajahnya benar-benar memerah seakan semua aliran darah mengir kesana. Puncratan darah dari lehernyapun makin kencang. Dan akhirnya pergulatan kami berakhir. 

Gadis di hadapanku berhenti sejenak, seolah mengingat-ingat lagi kejadian itu.

“Bima mati lemas dengan kakiku mengunci tangan kanannya, dan kedua tanganku memegang tangan kirinya.” Lanjutnya lagi.

“Aku menyingkir dari tindihan kepala mayat Bima. Membersihkan debu di muka dan mulutku lalu mengambil pisau dari lehernya untuk memotong tali yang masih mengikat kakiku. Darahnya mengallir dengan deras dan segar. Seketika sekitar lantai menjadi merah kental oleh darah dan debu
.
“aku berdiri dan kuperhatikan tubuh lemahnya yang terkulai. Wajahnya masih merah dengan mulut yang menganga serta mata yang kini sudah tertutup sebagian. Jika dia masih melotot seperti tadi mungkin aku akan takut.

“Kusisir seisi ruangan. Tak ada apapun. Beralih ke ruang sebelah. Aku melihat dua orang… berseragam polisi. Satu orang sudah tak bernyawa dengan lubang di kepalanya dan darah yang juga mengalir deras di sekitar lantai tempat dia terbaring. Mati.

“satu orang lagi bernapas tersengal memegangi perutnya yang tertembak. Dia mencoba menekan darah yang keluar. Namun tampaknya perut buncit itu tak sanggup menahan aliran darah. Dia melihat kearahku, aku yakin nyawanya sudah dipenghujung karna sepertinya ia tak sanggup bicara lagi. Ia mencoba berkata sesuatu tapi tak ku perhatikan. Aku memikirkan hal lain.

“disaat seperti itu, aku berpikir… apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus melapor kepada petugas polisi lain dan mengatakan aku hanya korban yang di culik? Apakah aku bakar saja semua barang bukti bersama tiga mayat ini? atau aku lari saja dan menghilangkan semua jejak yang mengatakan aku berada disini? Berpura-pura bahwa aku tak ada kaitannya.”

Aku memegang daguku sedikit memberikan pendapat, “aku pikir melapor pada polisi dan menjadi korban tak akan berhasil.”

“kenapa?” tanyanya heran.

“orang tua anak itu, orang tua Bima maksudku. Adalah orang yang cukup berpengaruh di kota ini. orang seperti mereka tidak akan sedih ketika melihat anaknya mati dengan mengenaskan. Mereka akan marah. Sudah jelas setelah itu, mereka akan mencari orang lain untuk di salahkan. Dalam kasus ini, hanya kau yang tersisa.” Kataku sambil menoleh menatapnya.

“membakar tempat kejadian perkara juga tidak akan bagus. Menurutku…” kataku lagi

Gadis itu masih memperhatikanku.

“Jika polisi mendapati anggota mereka terbunuh disana bersama seorang yang lain. Dan mereka semua mati terpanggang. Mereka akan tau ada orang lain di lokasi, yang masih hidup dan tidak ikut terbakar disana. Lagi pula dimana kau akan mendapatkan bahan untuk membakar mereka.”
Gadis itu mengangguk-angguk meng-iyakan teoriku. Kemudian ia melanjutkan cerita…

“setelah semua itu, aku bergegas ke ruang tempat mayat Bima tergeletak dan mengambil bekas tali yang di gunakan untuk mengikatku. Pisau itu juga ku ambil dan ku usap-usap gagangnya dengan pakaianku yang sangat lusuh. Menghilangkan sidik jari. Kemudian aku letakkan pisau itu ke tangan seorang polisi yang sudah tak sadarkan diri, yang tadi masih memegangi perutnya yang berlubang. Kini tangannya memegang pisau yang aku gunakan menikam leher Bima.

“aku melihat sekitar ruangan. Dua orang mati dan yang satu akan menyusul. Entah apa yang dilakukan kedua polisi ini dengan Bima, namun aku yakin bukanlah sesuatu yang baik. Setelah kurasa tak ada yang tertinggal untuk meniadakan keberadaanku di sana bersama mereka. Aku pergi meninggalkan gubuk itu.

“tempatnya sungguh jauh. Sebenarnya ada satu buah mobil dan satu buah sepeda motor yang parkir di depan gubuk, kepemilikan Bima dan dua orang polisi itu kurasa, tapi aku tak mungkin menggunakannya. Karna aku tak ingin terlibat dan membuat seolah aku tak berada di sana.

“setelah sekitar satu jam berjalan di jalan setapak, aku menemukan jalan besar beraspal yang aku kenal daerahnya. Tempat itu agak dekat bandara.”

“Maksudmu di area dekat sini?” kataku memotong. Karena area rumahku masih dekat dengan bandara, walau tak terlalu dekat. Intinya masih di pinggiran kota.

Dia mengangguk. “aku ingin segera keluar namun pakaianku tidak memungkinkan. Dan masih banyak sekali kendaraan mondar-mandir. Jadi aku menunggu di balik semak-semak hingga malam benar-benar larut. Dan untungnya, hujan pun turun…

“saat hujan benar-benar deras, aku berlari menuju jalanan aspal dengan sangat cepat. Aku tak pernah berhenti sampai memasuki jalan menuju komplek rumahmu.” Katanya berhenti dan melihatku tajam. “kemudian tanpa aku sadari, aku sudah berdiri di teras rumahmu.” Katanya dengan tatapan tak bersalah ke wajahku.

Anak ini baru saja menghabisi nyawa seseorang dan masih bisa memamerkan wajah seperti itu. Tapi bukannya takut, aku malah tersipu dengan tawa sambil mengusap-usap rambutnya.

Aku berdiri dan memperhatikan pakaian basahnya yang menumpuk dengan pakaian kotor lainnya, masih terlihat bekas darah disana yang bercampur dan menyebar menjadikan baju putihnya sedikit menjadi pink.

“dimana tasmu?” tanyaku.
“di perpustakaan” katanya.

Aku menatapnya heran dengan alis sebelah kiri yang naik sebelah, perpustakaan?

“aku sudah sebulan tidak tinggal bersama tante dan tinggal di perpustakaan sekolah.” katanya santai.

Aku menuju kamar tempat pakaian kotornya di letakkan. Aku perhatikan, tak ada bagian yang robek. Disebelahnya ada tali yang juga sedikit terkena bercak darah. Setelah agak lama melamun, sinar mentari pagi menembus jendela dan mengenai wajahku. Dan akupun teringat. Darah… bercak darahnya.

Aku melihat ke arah sayatan kecil pada pergelangan kaki gadis belia itu. Kami masih belum tau apa hubungan dua oknum polisi yang mati dengan Bima, mungkin masalah narkotika? Jika sampai ada oknum lain yang terlibat, ini akan terlalu beresiko. Cepat atau lambat pasti akan di adakan investigasi, mereka akan mengetahui bahwa Gadis belia ini dekat dengan Bima, saat mereka melihat luka kecil itu, bisa jadi mereka akan mencari becak darah di lokasi kejadian dan mencocokannya. Atau lebih parah lagi, oknum lain yang terlibat masalah dengan Bima akan memburu gadis ini agar tak ada saksi yang bisa di mintai keterangan. Gawat.

“apakah kau tak punya barang lain untuk di bawa?” kataku.

“dibawa?” katanya bertanya heran.

Aku melemparkan jaket tebal padanya dan memakai jaket pula. Mengambil sedikit pakaian, arloji, penutup wajah, topi, dompet, handphone, laptop, charger. Dan menggandeng tangannya menuju mobil (yang juga belum lunas kreditnya).

“kita harus pergi sekarang. Sebelum ada yang menemukan mayat mereka.” Kataku singkat.

Kami melaju ke utara. Jauh… Jauh sekali tanpa menoleh ke belakang.

Bersambung…

Share:

Namanya adalah... (5)


CHAPTER 5. STEFANI

“Mereka bilang lidah bisa lebih tajam dari pedang, mungkin begitu gambaran jelasnya dalam kasus ini. tapi bukan aku yang menusuk duluan. Kalau dipikir-pikir lagi, dia mungkin pantas mendapatkannya. Ya, dia memang pantas.

“Gadis itu, walau aku ragu dia masih gadis… kau tau apa yang dia katakan saat pertama kali mendengar orang tuaku meninggal? ‘aku iri padamu’ katanya. Dari mulut baunya yang tak tertahankan itu dia mengatakan iri padaku. ‘harusnya orang tuaku cepat mati juga, dengan begitu aku akan segera mewarisi kekayaan mereka’ lanjutnya lagi. Di tengah kelas yang sedang berlangsung. Aku yakin ada orang lain yang mendengar juga.

“kemudian suatu hari, saat aku sedang berdiam diri di toilet sekolah. Aku mendengar ia datang masuk ke ruang bagian luar toilet, tempat dia dan beberapa teman(babu)nya biasa berdandan. Ia mem-bully teman sekelas kami yang lain. Tentang betapa gemuk dan jeleknya dia. Kejadian yang biasanya hanya aku saksikan di televisi, ternyata terjadi di depan mataku. Apa yang aku lakukan? Tidak ada. Aku hanya mendengarkan sampai ia benar-benar selesai dan meninggalkan gadis malang itu menangis sendirian di pojokan toilet busuk. Well… sebenarnya dia tidak sendirian karna ada aku disana, tapi dia tak melihatku jadi… begitulah.” Ia berhenti sambil megusap rambutnya yang sudah agak kering. Baju longgarku yang ia kenakan juga susah tak basah oleh kulitnya lagi.

Aku membantu mengusap rambutnya, menyingkap mengaitkan pada telinga agar tak menghalangi bibirnya yang bergerak-gerak.

“biar aku luruskan dulu, wanita yang kita bicarakan ini, stefani bukan?” kataku bertanya ringan.

“siapa lagi?” katanya sambil mengatupkan mulut dan mengangkat kedua alisnya. Matanya terlihat lebih bulat dan membuatnya tampak makin cantik.

“Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur apapun kejahatan kecilnya itu, selama ia tak menggangguku, akan ku abaikan juga tingkahnya.

“tapi suatu waktu… dia ingin berkencan dengan seorang anak populer dari sekolah lain. Dan entah ada angin apa, dia memaksaku untuk ikut…”

Aku tertawa sejenak.

Dia melihatku heran. Aku menggengam kedua tangannya yang sedang memegang gelas coklat hangat. Dan mengarahkan dia untuk meminumnya.

“ kau sungguh tidak tahu kenapa?” tanyaku.

“tidak tau apa?” tanyanya balik

“tidak tau kenapa dia memaksamu untuk ikut”

Dia menggeleng heran.

“karena kau cantik.”

Mimik wajahnya menunjukkan bahwa ia makin heran. Walaupun sedikit diawali dengan senyum sipu malu.

“teman-teman dari pria itu mungkin bilang, mereka akan membiarkan stefani ikut menjalani apapun itu kegiatan mereka, asalkan mereka mengajakmu.” Sambungku lagi. “Aku bisa membayangkan selanjutnya.”

“apa?” kini gantian dia yang mulai memperhatikanku.

feel free to stop me anytime you think I’m wrong.”14 Kataku sambil sedikit melirik wajahnya.

“setelah ia memaksamu ikut, kau mulai merasa jengkel padanya. Dan aku tak terlalu tertarik bagaimana prosesnya, untuk membalas dendam pada stefani, alih-alih dekat dengan teman-teman lelaki itu… kau malah dekat dengannya langsung. Praktis kau menjadi ibu presiden berandal-berandal itu. Stefani tak bisa macam-macam lagi denganmu karna kau mendapatkan perlindungan dari mereka. Stefani stress berat dan ia bunuh diri tahun lalu.” Aku melihatnya matanya dalam-dalam. Kami saling berpandangan agak lama. Aku mengusap kepalanya lagi dan tersenyum. “tapi itu tetap tidak membuatmu menjadi pembunuh.”

“seminggu sebelum ia bunuh diri… aku memergokinya menangis di pojokan bawah tangga lab bahasa. Saat itu sepi sepulang sekolah. Aku tak tau perempuan sekejam Stefani bisa menangis. Saat dia melihatku, dia tidak terlihat menjengkelkan dan mulai berbicara dengan nada putus asa…
‘tidak bisakah, kau mengasihaniku… kau bisa mendapatkan lelaki manapun, tapi kenapa dia? Aku… aku akan melakukan apapun untukmu, apapun. Tapi setidaknya, walaupun aku tak bisa bersamanya… kau pun jangan bersamanya. Setidaknya tidak di hadapanku’ katanya sambil terisak… lalu ku katakan  ‘apapun? Kau mau melakukan apapun?’ Aku mendekat ke telinganya dan berbisik… ‘kalau begitu mati saja.’ Aku berkata ringan sambil berlalu.

Kemudian aku meninggalkannya untuk mati seminggu kemudian.”

“tetap tidak membuatmu membunuhnya” kataku.

“aku tau.” Katanya. “tapi kali ini…” Ia menoleh kebelakang, ke arah tumpukan baju seragamnya yang warnanya sudah membaur dengan darah.

Bersambung…

Share:

Namanya adalah... (4)


CHAPTER 4. NIAT

"Tidak seharipun berlangsung ringan di rumahku. ibuku, entah ia benar ibuku atau bukan... tidak pernah menyiapkan makanan. aku menyiapkan semua kebutuhan rumah. posisiku hampir seperti pembantu. Dengan ayah tiri yang pulang mabuk setiap malam, membuatnya semakin parah. rumah yang tidak terlalu besar ini serasa kuburan saat sore aku pulang sekolah, namun tiba-tiba berubah pasar swalayan saat dini hari menjelang. suara teriakan ayah dan ibuku terdengar sampai ke mana-mana. 

"Entah menyedihkan atau tidak, aku tak perduli apa yang mereka lakukan. selama aku masih bisa melakukan rutinitasku, fuck those two.13 tapi, tidak hingga suatu malam ibuku benar-benar kehilangan akal sehatnya. Ayah pulang dengan mabuk seperti biasanya, ribut-ribut seperti biasanya, membentak ibu (dan ibu membalas) seperti biasanya. yang tidak biasa, Ibuku mengalah sejenak dan mereka saling terdiam di ruang tamu.. kemuadian ia menangis. Palsu. Tangisan Palsu yang busuk. Anak keledai pun akan tau tangisnya dusta. 

"Aku melangkah ke dapur dan menyiapkan 2 gelas Teh, buat apa? Tentu saja untuk menenangkan mereka, untuk selamanya. Sudah memuncak kegeramanku pada dua orang itu. Aku benar-benar ingin membuat mereka diam, diam untuk selamanya. Hampir saja, hampir saja aku campurkan racun tikus yang cukup untuk 2 gelas teh yang seharusnya mereka minum, namun otakku nampaknya bekerja kembali setelah mendengar jerit ayah yang kembali menggelegar. Ibu minta cerai. Aku batalkan niatku dan kuletakkan kembali bungkusan racun tikus di tangan.

"Keadaan semakin kacau di luar batas. Rumah kami yang cukup terpisah dari tetangga membuat mereka makin leluasa menjerit dan kini, melempar apapun barang yang ada. Kalau begini apa yang bisa kulakukan? Mengintip ruang tengahpun tak mungkin. Aku juga tak mungkin tidur jika begini. Maka aku melangkah mengendap-endap keluar lewat pintu belakang. Melangkah menuju rumah ketua RT yang cukup jauh. mungkin sekitar 10 menit perjalanan.

"Sesampainya di depan pelataran rumah ketua RT, aku disambut 3 orang peronda dan seorang hansip yang sedang main gaple. Salah satu peronda adalah Pak RT sendiri. 
'Loh... dek ****, ngapain malem-malem kesini?' sapa salah seorang dari mereka.
'kenapa, ada maling? kamu di culik?' kata pak RT ikut bertanya.
'tolong pak.' kataku lirih.
'iya, kenapa... duduk dulu sini. ini minum air putih dulu.' sambil menyodorkan sebotol air mineral yang ada di sebelahnya.
'ayah ibu saya pak, bertengkar hebat sekali, saya takut pulang.' kataku sambil menunduk.

"kemudian mereka saling pandang dan menghela nafas masing-masing. Mereka sepertinya ingin menyampaikan sesuatu tapi tidak enak kepadaku. Sesaat setelah itu pak RT inisiatif mulai bicara.
'gini saja, kamu masuk ke rumah dulu ya.' sambil mengajakku masuk ke rumahnya.

"disana aku duduk di ruang tamu sementara ia membangunkan istrinya dan berbicara sebentar. setelah percakapan beberapa menit, pak RT keluar kamar bersama istrinya dan berbicara denganku.
'jadi gini, masalah teja sama rismi ini (orang tuaku) sebenarnya sudah sering di carikan solusi sama bapak dan temen-temen yang lain. tapi bagaimana ya, dulu saat kamu masih tinggal sama ayahmu kami pernah melerai mereka saat bertengkar, malah kami yang kena getahnya. Kami juga ga berani ikut-ikutan terlalu jauh. Kalo menurut bapak, kamu malem ini tidur disini saja ya. besok mungkin mereka sudah balik kaya semula, kan hampir setiap hari begitu toh.. nah itu ibu lagi nyiapin kamar buat kamu. Besok kami antarkan pulang, kalo memang mereka belum beres urusannya, kita panggilin polisi saja buat ngamanin.' katanya sambil tersenyum."

Gadis di hadapanku berhenti bercerita sejenak. lalu menarik nafas panjang...

Aku masih memperhatikan.

"malam itu tidak terlalu panjang, karna aku tidur nyenyak. Namun hari setelahnya jadi panjang dan runyam. karna saat aku kembali kesana bersama pak RT dan seorang hansip, mereka berdua sudah di temukan tidak bernyawa. Kau tau kenapa?" katanya melihat kearahku. Wajahnya masih sedikit lembab.

"racun tikus?" kataku.

Ia tersenyum dan memandang kembali segelas coklat hangat miliknya.

Aku sedikit membuang nafas, dan sepeti orang berfikir dalam (padahal tidak), " aku sudah mendengar kisah tentang orang tuamu, dulu jadi berita ramai di kalangan para guru. tapi itu tidak membuatmu menjadi pembunuh mereka" kataku mantap.

"tapi sebelumnya, tidak ada yang tau aku yang menyiapkan senjata. mereka hanya menarik pelatuknya. salah satu dari mereka." ia meminum coklatnya sebentar. "Coba saja bocorkan cerita ini ke salah satu group chat para guru, lihat apa yang akan mereka katakan." Ia tersenyum tipis.

Bersambung...

Share:

Namanya adalah.. (3)


CHAPTER 3. PPENGAKUAN

Dia duduk sambil mengusap kepala dan rambut basahnya dengan handuk kecil. Aku ikut nimbrung di sebelahnya dengan posisi duduk sofa 90 derajat. Memberikan secangkir coklat hangat. Hujan masih lebat di luar. Ia memegang gelas coklat panas dengan dua tangannya, meminum sedikit, lalu menatapku perlahan. 

"can I trust you?”7  katanya. 

"I dont know. It's your choice who to trust." 8

"Yea. I chose horribly."9 dia menunduk lagi. 

Aku tersenyum dan mengusap rambutnya. " you must be so tired, it's ok if you don't want to talk about it. Just get some sleep and be ready for tomorrow."10 Kataku sambil berdiri dan ingin berlalu. 

Namun dia kemudian menggenggam tanganku. "wait!" katanya.. "I've killed them all. "11

Aku terhenti. Tubuhku mengeras sejenak. Kemudian aku berpaling dan duduk lagi. Kali ini di lantai dan menghadap kepadanya langsung. Wajahnya tak menggambarkan apapun. Menunduk ke arah wajahku. Kami bertatap kosong.

Aku tersenyum lagi. Lalu menggenggam punggung kedua telapak tangannya. Mengusap-usap halus dengan kedua ibu jariku.

"all of them?"12 tanyaku pelan. 

"all of them. " jawabnya mantap. 

Disinilah kisahnya mulai bercampur dengan kisahku, awal musim penghujan september tahun lalu. Menjadi sedikit runyam, dan mungkin menyenangkan. Aku pun.. Yang tidak terlalu memiliki emosi ini agaknya menggap biasa saja apa yang ia lakukan. Aku tak memiliki ketakutan akan masa lalu. Aku selalu memikirkan hari ini, dan masa depan.

Maka aku memilih posisi duduk senyaman mungkin. Hari ini tidak akan ada tidur. Hari esok sebentar lagi muncul. Dan cerita baru saja di mulai.. Tentang kisah seorang gadis belia, dan kematian-kematian mengerikan, yang ia rencanakan. 

Bersambung...

Share:
www.bocup.info. Powered by Blogger.

Contributors