Stories and Sh*t

Monday, January 30, 2012

motif membuka profil FACEBOOK

Tak ada lagi manusia yang merasa asing dengan kata facebook...
Terutama dikalangan pelajar, mulai dri SD, SMP, SMA, juga mahasiswa dan umum... Bahkan TK! (mungkin).
Walaupun mengaku bukan pengguna, tapi minimal... Mereka mengenal 'fb' (facebook) dengan baik dan jelas...

Right.. Enough vo the opening... Now let's go to the major point of this note..
Yang menjadi pertanya'an adalah...
'APA YANG MENJADI ALASAN SEORANG MEMBUKA PROFIL fb ORANG LAIN'(teman di fb).??

Berdasarkan hasil Survei didapatkan 3 jawaban yang 'dduga scara absolut' tepat:

1. Penasaran...
2. Iseng2 brhdiah...
3. Perhatian...

Deskripsi:
1. Dsbutkan penasaran jika kita mungkin melihat statusny/phto/post lainny yg dianggap unik... Atw dia yg trknal...
Juga dpt dsbabkan karena mukanya yg tba2 nongol di layar fb anda eg: friend request, people you may know, org yg mencolek or mngrim pesan pda anda...

2. Iseng2 brhdiah... Biasany dilakukan oleh makhluk jomblo kurang krja'n, yg brhrap bisa mndpat cwek 'semi murahan'... Yg mau dirayu dgn kta2 najis.. eg: hai maniss... Thanx y da cnfirm.. BTW anag mana ne, bleh minta nope g? (lngsung sksd getho. jijay...)

3. Perhatian..
Biasanya dilakukan untk PDKT atw jga mngtahui keada'n org yg 'mungkin' disaiiangi.. eg: kluarga, saudara, org yg djadikan tauladan, atw pacar,..
Juga dpt dijadikan sarana menyimpan perasa'n pda org yg kita prhtikn, or saiiangi... eg: anda telah putus dgn pacar anda, tpi anda masih menyayangi dn ingin tw ke'ada'nny.. Krn gengsi scra lngsung.
Jdi anda mmbuka profilny (melhat sttuz atw post lainny) dn biasany mmkai tmbhan kecil dgn memberikn jmpol anda.. (like)..

Smoga ada yg membaca dn mnyukainy... (dn berhati,hatilah jika pasangan anda sering mmbuka profil mantan2ny...)

hhahaha

di copy dari note fb : Bocup D'lucky-boy
Share:

GALAU end



Saya perhatikan lagi photo dalam senyumnya yang sungguh menawan. Bukan candaan, kali  ini saya benar-benar berfikir akan rasa ini. Ingin melangkah namun hati teriring bimbang dalam senyum penuh kepalsuan. Sesaat saya sadari, perasaan saya belum beralih,  dari tempat dimana saya meletakkan sebelumnya.

GALAU sampai kiamat.
Share:

Tuesday, January 10, 2012

GALAU 4


Saya bener-bener nggak nyangka setelah sekian lama berlangsung, dan dengan memakai banyak bintang seperti para (maaf) lelaki boyband sm*sh, so nice memproduksi sebuah iklan yang cukup merarik. Dengan hanya memakai satu bintang dan dengan konsep yang tidak terlalu kreatif seperti biasanya, iklan ini dinyatakan layak tonton oleh, saya.

Bukan! Saya bukan mau cerita tentang iklan indonesia yang sudah mulai neko-neko dan sengaja buat iklan buat nunjukin kalo apa yang mereka tampilin di iklan itu boong, bukan. Hari ini saya galau lagi. Galau menn galau...

Mungkin ini disebut karma. Karna tiap hari, pasti ada waktu dimana saya ngejek seorang temen saya yang badannya sekarang hampir nyamain gajah, bukan... bukan ngejekin badannya. Tapi ngejekin kisah dramatisnya waktu SMA dulu. Mau tau ceritanya? Panjang menn, intinya dia pernah disakitin sama cewek. Katanya sakit banget sampe mau mati, dia bahkan nggak bisa lagi ngerasain rasa lain selain sakit. Sampe makanannya dicampur bulu ketek juga nggak kerasa, ketika makanannya diganti bulu ketek semua juga nggak kerasa. Gila! Ampuh bulu ketek saya udah ada yang makan.

Nahh, kali ini saya emang nggak sakit hati tapi mendapat fenomena perasaan yang lain namun pada tempat yang sama yaitu hati. Galau bukan sembarang fenomena perasaan yang harus ditanggapi dengan santai dan tidak serius. Galau itu bisa menjadi penyakit yang kronis jika tidak segera ditangani dengan keputusan hati yang tepat. Dan sampe sekarang saya belum bisa mengambil keputusan yang tepat itu. Apa yang harus saya lakukan? Kekamar, tidur... ngorokk..

Setiap kali saya melihat mata yang besar dan bersinar itu, saya jadi inget sesuatu. Sesuatu yang selalu dekat dengan keseharian saya dan sangat saya butuhkan, bola lampu. Atas dasar kemiripan itulah timbul sesuatu mirip lainnya, yitu sifat kebutuhan akan dirinya. Disisi saya, disini, saat ini. Ohhh malang nasib anak muda.

Galau demi galau sudah saya lalui dan hari-haripun serasa selalu mendung, terlihat dari pakean saya yang udah tiga hari dijemur dan belum kering. Namun mendung yang sesungguhnya ada dihati ini, hati ini membutuhkan bola lampu itu untuk membuatnya kembali cerah. Hati ini membutuhkan hati lainnya untuk saling mengisi, mungkin saling bertukar empedu atau apalah... hati ini benar-benar kesepian karna tubuh ini hanya mampu menampung satu hati, bukan dua.

Sedikit miris waktu saya liat temen-temen saya semuanya pada telponan di malam minggu, tapi saya segera baik kembali ketika saya tau ternyata mereka semua pada ditelponin sama bapaknya. Bahkan saya sampe kaget, karna semua permasalahan ini membuat saya kacau. Ketika saya menggenggam rambut mencoba sedikit menjambaknya, rontok! Semua rambut digenggaman saya rontok. Apa separah inikah? Dan kemudian seseorang berkata, “mas tangannya jangan dikepala dong, ntar ikut kegunting lo”. Oh ya ternyata saya emang lagi potong rambut.

Tak ada cara menemuinya, tak ada cara menghubunginya, dan kalaupun ada saya pasti nggak berani untuk mulai. Tapi saya tak mampu terus berada dalam kegalauan ini, saya nggak mau jadi galauers salamanya. Baiklah, saya memutuskan untuk bergerak. (sembari memaju-mundurkan jempolkaki) ya, saya rasa saya sudah bergerak.

Sedihh banget sambil dengerin lagu peterpan dikamar sendirian. Suasana kayak gini nggak baik buat saya, kenapa? Karna suasana sepi dengan lagu melow peterpan ini membuat saya mengingat kasus Ariel-Luna.

Saya coba tidur, mimpiin dia. Saya coba nyanyi, eh kesebut namanya. Saya coba nulis, eh ternyata yang saya tulis tentang dia semua. Saya boker di WC, nggak! Sumpah saya nggak mbayangin dia. Keluar dari WC timbul pemikiran untuk ngelupain dia, dengan cara mengingat semua hal buruk tentang dirinya. Kira-kira apa ya?

Saya bayangin idungnya, nggak bagus, tapi imut.. bikin pengen narik-rarik. Bayangin bibirnya, indah bro, dengan warna merah yang bikin  inget teruss.. bayangin matanya, wow, bersnar terang menerangi jiwa ini.. bayangin rambutnya, panjang dan tertata bikin... bikin... ah... bikin tambah galau! It doesn’t work. I gotta forget her to survive but I can’t. I don’t wanna run away but I can’t take it I don’t understand, if I’m not made for U than why does myheart tell me that I am. Is there any way that I can stay, in your heart... I become so numb!

Makin hari makin jauh, makin GALAU.
Share:

SEBUAH KISAH SEDERHANA part 2




Mati aku kesiangan! Kataku langsung mematikan alarm dan bergegas ke kamar mandi, uh.. aku lupa lagi. Dari hari pertama tidak seharipun aku tidak lupa bahwa aku ini sudah lulus SMA sejak minggu lalu. Kepalaku sedikit pusing dan Mbak Surti masuk ke kamarku mengantarkan sarapan, artinya orang tuaku masih belum di rumah.

Semalam aku bermimpi, mimpi yang sangat aneh. Sepertinya aku membeli seorang wanita. Hahaha.. mungkin akan kulakukan suatu saat nanti. Kumakan lahap roti isi keju buatan Mbak Surti ini. Bukan bermaksud menjadi anak durhaka tapi roti ini terlihat seperti wajah kedua orang tuaku, membuatku makin lahap  memakannya.

Ingin kuisi hari-hariku dengan mengambil bimbel atau semacamnya. Tapi aku sudah diterima di salah satu perguruan tinggi negri yang, sangat-sangat berkelas. Jadi aku tak diperbolehkan mengambil bimbel apapun. Sial. Mereka tak memikirkan faktor lain selain pelajaran. Mereka tak mengerti rasana jadi seorang remaja tanpa teman.

Kucoba melakukan beberapa hal melelahkan agar mengalahkan lelahnya perasaanku ini. Kurombak kamar yang besar ini menjadi bentuk yang berbeda, lemari yang besar itu kupindahkan kesana-kemari, meja yang hampir tak dapat kugeser ini akhirnya juga berpindah tempat, mungkin sekitar 5 cm dari tempat semula. Kubongkar rak buku dan kususun kembali seperti orang gila. Melelahkan memang, dan akupun tertidur. Pulas...

Hampir saja aku tertidur sampai pagi kalau saja Mbak Surti tidak membangunkanku untuk makan malam. Ternyata orang tuaku sudah pulang, dan itu artinya aku harus duduk di meja makan bersama mereka. Sesuatu yang saat ini sudah sangat jarang terjadi. Aku bergegas mandi dan duduk berhadapan bersama mereka. Kami makan dengan sangat tenang, selesai makanpun sangat tenang. Hampir tak dapat kupercaya bahwa kami sama sekali tak berbicara. Sedikitpun tidak.

Aku duduk diranjang dan berfikir hal yang macam-macam. Entah mengapa suasana sepertinya menjadi sangat sunyi. Jangkrikpun tak bersuara. Aku menatap langit-langit kamarku dan entah mengapa aku menjadi sangat sedih. Aku terus menoleh keatas menghalangi air mataku untuk mengalir tapi tetap megalir juga. Apa benar mereka pernah menggendongku waktu aku kecil. Apa benar mereka pernah menggantikan popokku. Apa yang salah dengan hidupku ini.

Malam ini aku tak bisa tidur sampai pagi, kupandangi mereka yang bersama menaiki mobil mereka meninggalkan rumah ini. Kenyataanya aku hampir tak mengenal mereka. Terus kupandangi jendela ini mengarah keluar, memperhatikan orang-orang yang lalu lalang dijalan depan rumahku. Kadang ada yang berpasangan lelaki-perempuan, kadang ada yang bersama sekeluarga, kadang ada yang bersama anjingnya,  tak ada yang sendiri.

Mungkin aku sudah sampai titik batas emosiku hari ini. Tangan dan seluruh tubuhku seolah bergerak sendiri menyiapkan peralatan. Peralatan untuk hidup diluar rumah ini. Dalam sebuah tas besar dan satu kantong kecil. Jaket dan sepatu pun sudah kukenakan walau dengan fikiran yang masih kosong. Lengkap dengan topi untuk melindungiku dari terik. Satu hal lagi, kartu ATM.

Aku mengeluarkan kepalaku dari balik pintu kamar memastikan tak ada Mbak Surti di sekitar sini. Kutengok pos satam dari jendela juga sepi, sepertinya mereka sedang tidak di depan. Setengah menunduk kususuri dapur dan ruang tengah serta ruang tamu untuk menjaga agar Mbak Surti tidak melihat aku pergi. Setelah itu aku berlari sekuat-kuatnya menyusuri taman dan segera keluar pagar rumah itu. Maksudku, penjara itu. Mau kemana aku?

Kakiku melangkah saja tak tau mau kemana dan akhirnya berhenti di salah satu terminal kota ini. Setelah berfikir sejenak, kubeli satu tiket menuju, Jakarta. Siang dan terik panas membuatku begitu kepanasan. Tas besar inipun ikut membuatku lelah, lelah sekali. Aku mencari tempat duduk yang rindang dibawah pohon didekat seorang nenek yang berjualan bakwan. Ahhh, segar sekali. Bis masih berangkat 2 jam lagi dan suasana sejuk ini membuatku, tertidur...

Sial! Aku bangun dan bergegas menuju loket yang sudah sepi. Kuperhatikan sekeliling dan jumlah orang sudah berkurang drastis menjadi hampir dapat kuhitung dengan jari tangan ini. Aku terperanjat sejenak dan melihat kearah arloji dengan ragu. 18.00. hhahahaha aku tertidur selama 4 jam dan tertinggal bis. Hhahahaha sembari menyobek tiket dan menendang nendang batu dengan kesal.

Kubuka handphone dan terlihat 13 missed calls. 10 kali dari supir bis tampaknya, dan 3 kali, dari Ibuku. Ada beberapa sms juga dari Ibu dan ayahku yang menanyakan dimana aku sekarang, katanya mereka khawatir. Ingin muntah aku membacanya, khawatir tapi hanya mencoba menghubungiku selama tiga kali? Bahkan supir bis itu lebih khawatir padakau.

Sekarang harus kemana aku? Bingung akan kemana dan tak ada tempat menginap. Hari mendung, mungkin sebentar lagi akan hujan. Ingin rasanya aku menyewa sebuah kamar hotel, tapi itu akan menghabiskan uangku dengan cepat. Semakin cepat uang habis, semakin cepat aku kembali kerumah itu. Aku tidak mau.

Beberapa kali Hpku berdering lagi, kumatikan saja. Berisik. Kemudian aku mulai berfikir dimana tempat inap yang tak akan menyedot kantongku, sebelum aku mendengar suara adzan maghrib. Kusempatkan shalat berjamaah di masjid dengan beberapa orang yang nampaknya beriman. Bahkan kesempatkan sampai shalat isya, sebab tak ada tempat lain untung bernaung. Ingin bermalam dimasjid ini tapi aku merasa tak sopan, aku bahkan jarang menghadap-Nya.

Hari sudah benar-benar malam dan aku lapar. Tas ini berat sekali, dan kakiku hampir patah berjalan kesana-kemari tak tentu arah. Tak berapa lama setelah keluhan-keluahanku, hujan pun turun dengan santainya. Hampir saja membasahi seluruh tubuh ini beserta tas yang kubawa kalau saja aku tak cepat masuk kedalam taxi yang kebetulan melintas.

Saat masuk kedalam taxi aku memang tak memikirkan mau kemana, jadi sekarang aku bingung menjawab pertanyaan supir taxi ini. Karna tampangku yang mungkin kurang meyakinkan supir ini terus menanyai tujuan kami. Dengan sembarang jawab pun memberikan alamat rumah lamaku yang masih bertempat di kota ini.

Dalam perjalanan yang macet aku menyaksikan kota Surabaya ini yang ternyata cukup gemerlap di malam hari. Ada beberapa pasangan yang lalu-lalang dengan motor mereka, beberapa anak sekolah yang masih berseragam, sepertinya mereka keluyuran sebelum pulang. Ada juga segerombolan orang berkaos hijau dalam sebuah bak truk yang ramai. Truk itu bertuliskan bonex. Apa itu bonex?

Aku berhenti didepan rumah yang dulu pernah kutempati, sekarang rumah ini terlihat sangat kecil. Aku memiliki kunci cadangan rumah ini, mungkin ini tempat yang tepat untuk menginap malam ini. Orang tuaku pasti tak menduga hal ini. Kalau ada tempat yang mereka datangi untuk mencariku pastilah itu hotel.

Perlahan kubuka pagar tanpa suara. Tak boleh ada tetangga yang tau aku menginap disini sendirian, siapa tau mereka masih memiliki kontak orang tuaku. Atau mereka masih berhubungan dengan tetangga lama, segala sesuatunya harus berjalan dengan tenang.

Aku berjalan dengan sangat perlahan menuju pintu belakang rumah dan mencoba memasukkan kunci lalu kreeeek.... tiba-tiba pintu terbuka tanpa menggunakan kunci. Siapa? Orang tuaku kah? Atau pencurikah? Seketika itu jantungku hampir berhenti karna kaget. Ini tidak mungkin orang tuaku. Pagar depan masih dikunci dan lampu teras serta ruang tamu juga dimatikan. Hening sekali membuatku semakin takut untuk bergerak. Dengan sedikit keberanian yang tersisa aku mesuk lewat belakang dengan sangat pelan dan nyaris tanpa suara. Kulihat arlojiku dan waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. dalam hatiku berdoa agar setiap langkahku dipenuhi keberuntungn, kabulkanlah doa hamba-Mu yang lapar ini.

Kulihat dapur dengan tatanan yang sedikit berantakan. Ada bekas seakan seorang baru saja memasak mie instan, semakin mengherankan dengan hanya menghidupkan lampu ruang tengah dan dapur saja. Tapi dimana orang itu? Ku periksa 3 pintu kamar yang ada tapi masih terkunci rapat. Mungkinkah ada seorang yang menginap disini selama ini secara diam-diam? Atau mungkin simpanan ayahku? Atau ibuku? Ahhh... berfikir kemana aku ini.

Kucari ia disetiap sudut rumah tapi tak ada orang. Hampir lega hati ini sebelum akhirnya terdengar suara air mengalir di kamar mandi. Ya ampun aku belum memeriksa kamar-kamar mandi. Jantungku berdebar kencang sekali, ini lebih mirip seperti film horror untukku. Manusiakah? Cepat kuambil payung yang ada didapur dan merapatkan tubuhku di dinding sebelah pintu kamar mandi.

Lagi kudengar air itu dengan suara yang lebih keras seperti orang yang mengayunkan dayung sedang mandi. Tak terasa keringat dingin mengalir disekujur tubuhku. Mataku begitu tajam sampai lupa untuk berkedip, begitu menunggu apa yang sebentar lagi keluar dari balik pintu itu. Mulutku komat-kamin tak karuan dan terdengar seperti mantra.

Sepuluh menit sudah aku berdiri kaku menunggu sesuatu itu keluar namun belum juga keluar. Apakah benar ada sesuatu dikamar mandi? Bagaimana kalau ternyata kamar mandi ini kosong, lalu suara apa barusan? Haruskah kudobrak saja, atau aku teriak saja agar banyak orang yang datang kemari dan mengeroyok bersama-sama, tapi dengan begitu mereka akan mengetahui kalau aku disini. Lama aku berfikir, kulihat arloji menunjukkan pukul 22.20. kemudian tiba-tiba pintunya terbuka!

Dengan cepat aku berbalik kedepan pintu dan mengayunkan payung kearah seorang... lemas sekali lenganku yang kaget menghentikan ayunan tangan ini. Seorang wanita yang sangat-sangat cantik dengan perawakan yang putih menggunakan handuk saja berada didepanku saat ini. Sedikit lebih rendah dariku dan rambutnya basah berwarna hitam. Tangannya menutupi mulut yang seakan menjerit dan wajahnya berekspresi sangat takut. Aku bengong antara perasaan bertemu bidadari seperti mimpi, dan kaget setengah mati. Kami saling berhadapan dengan waktu yang sepertinya berhenti. 

Bersambung....

Share:

Sunday, January 8, 2012

GALAU 3


Biarlah tangan ini mengetik mengalir bagai perasaan yang telah dipenuhi air, air mata. Sampai detik terakhirpun saya mengakhiri diri sebagai pecundang yang takut memulai cinta karna alasan klasik, ekonomi. Ekonomi bro! Ini membuktikan saya belum mampu melewati batasan ranjau kehidupan. (perang dorr dorr ambil pistol, tembak mati.) jangankan mau nembak ngomong aja susah.

Hari ini kayaknya bener-bener hari terakhir buat saya liat muka dia yang super imut, kaya badak. Tapi apa? Bahkan saya tidak memberi suatu momen positiv yang bikin dia bisa inget sama saya gitu, mungkin dia inget bibir saya karna bau jengkol tapi nggak! Ibarat nilai pertemuan saya tadi adalah mines. Yang malah menghapus sebagian ingetan dia tentang saya, mungkin semuanya.

Atas dasar perasaan yang masih membara, saya buat satu puisi untuk dia tentang dia yang berjudul, DIA (iringan musik orkestra bergemuruh). Bukan Cuma itu, saya juga berharap suatu yang nggak mungkin dengan memasang photo dia diatas puisi tersebut. Berharap dia liat, terus sadar dan tumbuh perasaan ke saya. Setelah dia baca, ada malah perasaan benci yang tumbuh.

Saya galau, bukan lagi tingkat polisi tidur tapi tingkat polisi bangun (permisi dek, tolong SIM dan STNKnya) nah lo? Saya mau jawab apa? Saya belum punya SIM. Saya juga nggak punya motor atau mobil jadi gimana mau punya STNK. Emang sepeda harus punya STNK? Gimana kalo polisinya bangun? Apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya bilang kalau saya galau? Ahhh jangkrik-pun tak mengerti apa yang kurasa dan apa yang kukata. Lagi pula, saya juga nggak punya sepeda!

Saya sesak dan nulis agak gemeteran, pengennya ngomong kalo saya suka sama dia. Tapi begitu saling hadap muka langsung lupa. Bahkan lupa kalo saya belum ngisi satu nomerpun pada kertas ulangan. Hari ini semesteran mamen, jadi nggak bakal ada pertemuan dia sama saya setelah ini. Kecuali semester depan kami sama-sama ngulang. Mahhhaaap bae.

Galau memang jadi hal yang biasa saat ini, dikit-dikit galau. Diputusin galau, nggak punya pacar galau, nggak punya duit galau, nggak suka lawan jenis.. gila coyy. Tapi galau ini adalah galau yang tingkatannya tinggi. Saya tau kalau dia pasti nggak bakal nerima saya kalau, saya tembak. Tapi saya masih punya keinginan untuk sekedar nyoba, nyoba bilang kalau saya nggak bisa sehari saja menahan otak untuk nggak ngebayangin tentang dia. Mungkin rambutnya, bibirbya, idungnya, bulu idungnya, upilnya, apalah...

  Saya ingin dia tau, sekedar tau kalu saya nulis tentang dia bahkan sampai GALAU 3. Udah berapa kalimat itu? Ini lebih dari puisi, dan kalau bahkan dari puisi saya juga udah buat puisi tentang dia, bukan tentang upilnya. Dan kalo dia mau minta buatin tentang upilnya juga pasti saya buat kok. Mungkin upil yang besar, upil yang bundar, upil yang tegar, upil yang terbuat dari perak atau apa aja bakal saya tulis. Apapun kecuali disuruh liat upil aslinya.

Ngomong-ngomong soal galau tadi saya ketemu lagi sama dia, nggak terlalu bersapa tapi cukup dengan lirik mata. Cuma saya yang ngelirik, dia nggak. Sakitttttt. Tapi hasrat walau tinggal hasrat tetap menarik mata untuk selalu memperhatikan dia. Sekali lagi memperhatikan dia, bukan upilnya. Walau jauh dari kategori cantik tapi dia memang menarik, saya rasa bajunya dilapisi magnet. Tapi satu hal yang saya percaya adalah setiap manusia memiliki kesempatan. Semenarik apapun dia, dan sepantas apapun saya untuk ditolak, saya tetap bebas mengeluarkan pendapat. Hal itu jelas tercantum dalam peraturan perundang-undangan saya lupa pasal berapa.

Tapi walau sudah dijamin kebebasanya, saya tetep bersikukuh memendam ungkapan yang mengandung begitu besar perasaan ini. Gimana kalau ditolak? Gimana kalau dia nggak suka? Dan gimana kalau upilnya bener-bener BESAR?

AKUUUU GAAALLAAAAUUUUU

Share:
www.bocup.info. Powered by Blogger.

Contributors